PAMEKASAN – Praktik keberagamaan di Madura tidak pernah terlepas dari nuansa tradisi lokal yang memberikan makna khas pada pengalaman spiritual umat. Salah satu bentuk integrasi tersebut adalah tradisi tellesen katopak, yang digelar pada hari ketujuh bulan Syawal sebagai momentum simbolik “lebaran kedua” bagi mereka yang telah menunaikan puasa enam hari di bulan Syawal.
“Tradisi ini tidak hanya merepresentasikan ekspresi kegembiraan spiritual, tetapi juga merupakan konstruksi sosial yang memperkuat kohesi komunitas dan memperdalam pengalaman keagamaan,” tegas Wakil Ketua KKMA Plus Keterampilan Tingkat Nasional, Dr Mohammad Holis, M.Si, yang juga menjabat sebagai Tim Penilai Buku Agama & Keagamaan Balitbang Kemenag RI dan Tim Pengembang Kurikulum Madrasah Kemenag RI.
Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki landasan kuat dalam hadis Nabi, yang menyatakan bahwa siapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa sepanjang tahun. Konteks tersebut membuat tellesen katopak menjadi bentuk ritualisasi dari keberhasilan individu dalam menjaga disiplin spiritual pasca-Ramadan.
“Dalam konteks ini, tellesen katopak dapat dipahami sebagai bentuk ritualisasi dari keberhasilan individu dalam melanjutkan disiplin spiritual pasca-Ramadan,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala MAN 2 Pamekasan itu.
Lebih dari itu, praktik ini berkembang menjadi fenomena kolektif yang sarat makna sosial. Sebagai mekanisme integrasi sosial, tradisi ini memperkuat solidaritas melalui pengalaman bersama yang bersifat sakral, menciptakan ruang untuk berbagi kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan memperbarui ikatan sosial antar warga.
Dalam pandangannya, alam masyarakat Madura yang memiliki struktur sosial kuat berbasis kekerabatan dan nilai-nilai religius menjadikan tellesen katopak sebagai medium efektif untuk menjaga kesinambungan hubungan sosial. Tradisi ini juga mencerminkan collective effervescence atau perasaan kebersamaan intens yang muncul dalam ritual kolektif, memperkuat identitas sebagai bagian dari komunitas Muslim Madura.
“Dalam tradisi ini, agama tidak hanya hadir sebagai sistem kepercayaan, tetapi sebagai pengalaman kolektif yang membentuk makna hidup bersama,” urainya.
Selain dimensi sosial dan spiritual, tellesen katopak juga berfungsi sebagai emotional closure dari rangkaian ibadah Ramadan dan Syawal, menyediakan ruang untuk mengekspresikan kebahagiaan, rasa syukur, dan kelegaan secara kolektif. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan psikologis dan memfasilitasi internalisasi penuh pengalaman religius.
Tradisi ini juga memiliki dimensi psikologi sosial yang memperkuat motivasi religius melalui social reinforcement, di mana perilaku beragama diperkuat melalui respon positif dari lingkungan sosial. Istilah “katopak” sendiri merujuk pada makanan khas yang disajikan, menjadi simbol berbagi dan kebersamaan yang mentransmisikan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian.
“Ia adalah bukti bahwa dalam kebersamaan, ibadah menemukan makna yang lebih dalam, dan dalam tradisi, spiritualitas menemukan bentuknya yang paling manusiawi,” tukasnya.
Tellesen katopak juga dapat dilihat sebagai bentuk lokalisasi ajaran Islam yang adaptif terhadap konteks budaya setempat, menghasilkan keberagamaan yang khas dengan nilai-nilai universal yang diwujudkan dalam praktik lokal. Di tengah arus modernitas, tradisi ini menjadi simbol bagaimana masyarakat Madura mengartikulasikan pengalaman religius mereka sekaligus menjaga kesinambungan identitas kultural, serta menjadi cermin dinamika Islam Nusantara yang kaya dan beragam.
Editor : Tim Redaksi SRTV
