Surabaya memiliki peran signifikan dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia, termasuk sebagai salah satu basis penting bagi aliran surealisme, terutama berkembang semarak sejak era 1970-an dengan adanya lembaga seperti Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERSA). Surealisme di Surabaya seringkali menampilkan perpaduan visual seperti mimpi, simbolisme, dan gaya yang menggugah pikiran.
upn repository +1
Tokoh dan Seniman Surealisme di Surabaya dan Sekitarnya
Surabaya dikenal memiliki jejak sejarah seni rupa yang kuat, termasuk aliran surealisme yang berkembang pesat pasca-1960, seringkali digunakan sebagai sarana ekspresi politik dan protes sosial di tengah situasi politik yang dinamis.
Berikut adalah konteks dan tokoh-tokoh yang berkaitan dengan surealisme dalam seni rupa Indonesia dengan keterkaitan pada perkembangan di Surabaya dan masa tersebut:
Konteks 1960-an: Pada era ini, seni rupa Indonesia dipengaruhi situasi politik yang panas. Beberapa seniman menggunakan gaya surealis untuk menyampaikan pesan-pesan tersirat, menjauhi penggambaran realis yang terlalu gamblang akibat tekanan situasi sosial-politik.
Tokoh-tokoh Seni Rupa Surealisme (dan keterkaitannya) di Surabaya
dan Jawa Timur sejak 1960-an:
• Soedibio (Sudibio): Maestro pelukis yang aktif melukis dengan gaya surealis dan merupakan tokoh kunci di Jawa Timur, khususnya setelah mendirikan Sanggar Puring pada tahun 1967 bersama Wiwiek Hidayat. Karya-karyanya banyak menampilkan dunia mimpi dan imajinasi surealis.
• Wiwiek Hidayat: Rekan Soedibio dalam Sanggar Puring yang aktif berkiprah di Surabaya dan Madiun pada era 1960-an.
• Karyono: Perupa yang tumbuh di lingkungan seni rupa Surabaya era 1960-an.
• Tedja Suminar: Salah satu pelukis yang aktif dalam kancah seni rupa Jawa Timur/Surabaya di masa tersebut.
• Hening Purnamawati: Tokoh perupa berprestasi asal Surabaya yang mencuat pada tahun 1990-an namun akarnya berada dalam lintasan panjang sejarah seni rupa di kota ini.
• Tokoh yang Relevan:
• Danarto: Salah satu seniman yang karyanya pada awal 1960-an (seperti tahun 1963) merepresentasikan situasi surealistis, seperti dalam karyanya “Si Hitam dan Si Putih” yang menggambarkan situasi diametral dua kubu politik masa Orde Lama.
• Agus Djaja: Karya-karyanya, seperti “Dunia Anjing” (1965), mencerminkan perkembangan surealisme Indonesia pada dekade 1960-an.
• Soedibio: Pelukis yang sering dikaitkan dengan aliran surealisme Indonesia.
• Balai Pemuda Surabaya: Menjadi pusat perlawanan dan ekspresi para seniman di Surabaya.
• Amang Rahman Jubair: Meskipun lebih luas dikenal dengan pendekatan spiritualitas, karya-karya Amang Rahman juga banyak mengeksplorasi simbolisme dan pencitraan yang mendalam.
Era1970-an mulai semarak perkembangan seni rupa di Surabaya. Lembaga yang berpengaruh terhadap perkembangan seni rupa Surabaya saat itu.
Pertama, pengaruh Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera).
Kedua, pengaruh lembaga kesenian seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS), dan Bengkel Muda Surabaya (BMS).
Aksera sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan seniman dan kesenian Surabaya. Aksera melahirkan pelukis seperti Nuzurlis Koto, Hardi, Dwijo Sukatmo, Makhfoed, Thalib Prasodjo, Hardjono W.S, Suud, Poerono Sambowo, Hasan Busro, Agus Kemas, Nunung W.S, Hari Matrais, Abraham, Akuat Pribadi, Serudi Sera, Bambang Haryadjie (Bambang Telo), Arifin Hidayat, Yahya Ramsech, Sugeng, dan pematung Soesiyar. Mereka mengembangkan kebebasan berpikir dan berkreasi sesuai dengan masukan dari guru-guru mereka seperti Muhamad Daryono, OH Supono, Amang Rahman, dan sebagainya.
Era 1980-an
Gusge (realis-surealis), Anang Timur (realis, surealis, dan dekoratif. Banyak mengusung tema candi), Andi L. Hamsan (realis-dekoratif dan surealis), Hening Purnamawati (dekoratif dan surialisme). Hening merupakan pelukis perempuan Surabaya potensial, Ivan Hariyanto. Pelukis Surabaya bergaya surealis yang produktif. Ivan lulusan STSRI “ASRI” Jogyakarta, Koeboe Sarawan Salah satu
tokoh penting dalam seni lukis surealisme di Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Jawa Timur/Surabaya. Karya-karyanya sering dipelajari sebagai representasi surealisme reflektif, Nonot Sukrasmono Seniman, pendidik, dan budayawan yang berbasis di Sidoarjo (kawasan Metropolitan Surabaya) ini dikenal sebagai seniman yang memadukan visi visioner dengan struktur. Karya-karyanya seringkali berakar pada tradisi seni rupa yang kuat di Jawa Timur. dst.
Era 1990 an
Supar Pakis kelahiran kampung Pakis Surabaya, 23 Desember 1964. Di kalangan alumni seni rupa IKIP Adi Buana Surabaya yang rerata berprofesi sebagai guru, Yunus Jubair ( Alm ) putra dari pelukis terkenal surealis Amang Rachman Jubair dst.
Perkembangan Seni Rupa Surealisme (Pasca 1960-an). Seni rupa di Surabaya mulai semarak dan terdokumentasi, dengan AKSERA menjadi salah satu pelopor yang memengaruhi perupa muda pada masa itu.
Karakteristik Lokal Seni rupa di Surabaya memiliki sejarah dinamis yang mencakup seniman visioner yang tersetruktur, berupaya menyatukan seni rupa dengan kehidupan masyarakat.
Surabaya memiliki posisi yang signifikan sebagai ikon seni rupa surealisme di Indonesia, yang didorong oleh kontribusi seniman lokal, lingkungan akademik, dan refleksi sosial-budaya kota tersebut. Surabaya sebagai :
• Pusat Penggerak Surealisme Lokal: Surabaya menjadi basis
seniman- seniman yang berkiblat pada surealisme.
• Media Refleksi dan Kritik Sosial: Seni surealisme di Surabaya tidak hanya sekadar imajinasi, tetapi sering digunakan sebagai media refleksi dan edukasi terhadap masyarakat. Karya-karya yang dihasilkan seringkali menggabungkan objek nyata dengan elemen irasional untuk merespons kondisi sosial atau kerusakan alam.
• Peran Institusi Seni: Pendidikan seni rupa di Surabaya, termasuk lulusan dari IKIP Adi Buana Surabaya (sekarang Unipa) dan STKW Surabaya, turut berperan aktif dalam mempopulerkan dan mengembangkan pameran seni kontemporer bertema surealisme, menjadikannya wadah kreativitas yang khas.
• Karakteristik Unik: Surealisme di Surabaya seringkali muncul dari perpaduan “gejolak jiwa” dengan pematangan gagasan, menghasilkan karya yang membebaskan diri dari aturan realistis konvensional, menjadikannya warna tersendiri dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia.
Nonot Sukrasmono
Pelukiis, pendidik dan Budayawan
