srtvIndeks

Prasasti Anjuk Ladang: Jejak 1.089 Tahun Sejarah yang Menjadi Dasar Hari Jadi Nganjuk

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kabupaten Nganjuk resmi menginjak usia ke-1.089 tahun pada 10 April 2026. Penetapan tanggal kelahiran daerah ini bukan tanpa dasar kuat, melainkan merujuk pada bukti sejarah yang sangat otentik, yaitu Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di kawasan situs Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret.

“Di dalam Prasasti Anjuk Ladang terdapat angka tanggal 12 Bulan Carita tahun 859 Saka, yang bertepatan dengan 10 April 937 Masehi. Itulah yang menjadi patokan utama penetapan hari jadi kita,” ujar Sukadi, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk, Minggu (5/4/2026).

Prasasti yang juga dikenal dengan nama Jayastamba ini pertama kali dicatat oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java pada tahun 1817. Secara fisik, benda bersejarah ini terbuat dari batu andesit dengan tinggi mencapai 2,6 meter, lebar 100 sentimeter, dan tebal bervariasi antara 27 hingga 33 sentimeter. Terdapat 49 baris tulisan di sisi depan dan 36 baris di sisi belakang menggunakan aksara Jawa Kuno.

Saat ini, prasasti asli dengan nomor inventaris D.59 tersimpan dengan aman di Museum Nasional Jakarta. Sementara itu, masyarakat dapat melihat replikanya yang memiliki ukuran dan bentuk sama persis di Museum Anjuk Ladang.

“Anjuk Ladang lambat laun berubah penyebutannya menjadi Nganjuk. Jadi nama ini sudah melegenda sejak ratusan tahun lalu,” imbuhnya.

Secara historis, prasasti ini menceritakan tentang penghargaan besar Raja Mataram Medang, Pu Sindok, kepada masyarakat setempat. Karena berjasa membantu kerajaan dalam perang melawan Sriwijaya, Raja memberikan status khusus berupa Sima Swantantra atau daerah bebas pajak.

“Pu Sindok memerintahkan agar sebidang sawah di Anjuk Ladang ditetapkan sebagai daerah bebas pajak untuk dipersembahkan kepada Bhatara di Sang Hyang Prasada Kebhaktyan Sri Jayamerta atau Candi Lor,” jelas Sukadi.

Hingga kini, nilai sejarah tersebut terus dilestarikan. Setiap tanggal 10 April, digelar upacara adat Manusuk Sima di kawasan Candi Lor. Prosesi ini menghadirkan penampilan tokoh-tokoh sejarah dengan kostum asli, merekonstruksi peristiwa masa lalu agar generasi sekarang tidak melupakan akar peradaban.

“Agar masyarakat tidak melupakan dan memahami sejarah Nganjuk yang sebenarnya,” pungkasnya.

Reporter : Etna Laila

Editor       : Tim Redaksi SRTV

Exit mobile version