NGANJUK, SRTV.CO.ID – Momentum penyerahan 197 judul buku bersertifikat ISBN karya santri Institut Bisnis dan Syariah (IBS) PKMKK kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, bukan sekadar seremoni biasa. Penyerahan buku-buku tersebut, beserta Konsep Kurikulum Al-Muwahhid dan profil lembaga, menjadi simbol kuat transformasi pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan yang dinamis.
“Ini adalah pergeseran posisi pesantren dari ‘konsumen ilmu’ menjadi ‘produsen ilmu’. Jika dulu identik dengan membaca dan menghafal kitab, kini santri aktif menulis dan menerbitkan karya, menempatkan diri sebagai aktor dalam wacana keilmuan kontemporer,” ujar pengamat pendidikan dalam komentarnya.
Angka 197 judul buku bukan sekadar statistik, melainkan representasi nyata dari budaya literasi yang tumbuh secara sistemik. Di balik setiap halaman terdapat proses panjang membaca, berdiskusi, dan menyusun gagasan, membuktikan bahwa menulis kini telah menjadi budaya kolektif yang hidup dalam ekosistem pendidikan.
Secara sosiologis, kegiatan ini membentuk karakter intelektual santri yang berpikir sistematis, reflektif, dan berani berargumen. Mereka tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga mengolahnya untuk kemudian disampaikan kembali kepada masyarakat luas.
“Menulis melatih santri berpikir kritis dan mampu berpartisipasi dalam diskursus publik. Ilmu tidak hanya diam di dalam dada, tetapi diolah dan dikomunikasikan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar aktivitas akademis, menulis bagi santri juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam tradisi Islam, karya tulis dipandang sebagai amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir selama ilmu tersebut bermanfaat. Buku menjadi jejak keabadian gagasan yang melampaui ruang dan waktu.
“Tinta ulama dimaknai lebih berharga daripada darah syuhada. Menulis adalah bentuk pengabdian dan amal yang terus hidup,” tambahnya.
Penyerahan Konsep Kurikulum Al-Muwahhid juga mempertegas bahwa literasi bukan program tambahan, melainkan inti dari visi pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama, ilmu umum, dan keterampilan modern. Hal ini memberikan motivasi kuat bagi santri bahwa karya mereka dihargai dan memiliki masa depan.
Peristiwa ini pun menjadi dialog simbolik antara negara dan pesantren. Negara hadir mengakui kontribusi, sementara pesantren siap menjadi mitra strategis pembangunan.
“Buku adalah simbol peradaban. Dengan menulis, pesantren meneguhkan diri sebagai bagian dari arus besar peradaban, menjaga akar tradisi sambil terus menulis masa depan,” pungkasnya.
Reporter : Inna Dewi Fatimah
Editor : Tim Redaksi SRTV
