NGANJUK, SRTV.CO.ID – Suasana Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, berubah menjadi lautan manusia yang riuh rendah pada Sabtu (16/5/2026).
Ribuan warga dan perwakilan buruh dari berbagai daerah memadati tepi jalan dan lokasi acara, dengan antusiasme tinggi menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Momen bersejarah peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah ini bukan sekadar penghormatan atas pengorbanan sang pahlawan nasional, tetapi juga menjadi panggung penting bagi pengingat kebangsaan yang mendalam.
Di hadapan ribuan pasang mata yang menatap penuh harap, Prabowo membawa pesan rekonsiliasi sejarah, menegaskan kembali bahwa warisan pemikiran para pendiri bangsa adalah milik bersama seluruh rakyat Indonesia, dan tidak boleh dikotak-kotakkan demi kepentingan politik praktis.
"Percayalah kaum buruh, percayalah semuanya, paham saya adalah paham Soekarno pendiri bangsa kita,” ujar Prabowo dengan nada suara mantap dan tegas.
Bagi Prabowo, kehadirannya di museum ini seolah menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa depan. Ia mengaku secara blak-blakan dan penuh rasa hormat bahwa banyak pandangan, strategi, dan arah perjuangannya dipandu oleh ajaran-ajaran besar yang ditinggalkan oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Baginya, nilai-nilai, gagasan, dan semangat yang ditinggalkan sang Proklamator adalah warisan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Warisan sebesar itu, menurut Prabowo, akan menjadi sangat sempit dan tidak adil jika hanya diklaim, dimiliki, atau dijadikan simbol oleh satu kelompok, golongan, atau partai politik tertentu saja.
"Jadi saudara-saudara, sebetulnya saya yang banyak belajar dari ajaran-ajarannya Bung Karno. Jadi maaf, Bung Karno bukan milik satu partai, Bung Karno adalah milik seluruh Bangsa Indonesia,” tegasnya.
Presiden tak hanya menyinggung satu nama besar. Ia merajut kembali utuh benang merah sejarah bangsa ini dengan menyebut deretan tokoh-tokoh pendiri negeri yang berasal dari berbagai latar belakang dan spektrum pemikiran yang berbeda di masa lalu.
Menurutnya, kemajuan Indonesia hanya bisa dicapai jika generasi penerus mau belajar dan mengambil hikmah dari semua jejak langkah para pendiri bangsa, tanpa menyisihkan atau meremehkan satu pun kontribusi mereka.
Keragaman pemikiran dan perbedaan jalan yang ada di masa lalu justru adalah kekuatan utama yang menyatukan kita hingga hari ini.
“Bung Karno, Bung Hatta milik seluruh rakyat, juga Sultan Sjahrir, kalau kita mau maju harus belajar dari pendiri bangsa ini,” tuturnya.
Acara yang dihadiri jajaran menteri dan pimpinan tinggi negara seperti Menteri Tenaga Kerja Yassierli, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ini, akhirnya berubah menjadi momen diplomasi yang menyejukkan hati.
Prabowo kembali mengingatkan kembali rumus kebesaran sebuah bangsa yang telah terbukti sepanjang sejarah. Ia menekankan bahwa keharmonisan, persatuan, dan kemampuan menjalin hubungan baik dengan sesama, baik di dalam negeri maupun dengan dunia internasional, adalah kunci mutlak agar Indonesia bisa melangkah menjadi negara besar yang disegani.
“Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Kita hormati semua,” pungkas Prabowo.
Editor : SRTVRedaksi