NGANJUK, SRTV.CO.ID – Suasana di Balai Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan, tidak seperti biasanya. Pada Rabu (13/5/2026), sejak pukul 09.30 WIB, ratusan warga Dusun Sembung menyemut, membawa keresahan yang sudah lama mereka pendam.
Di tengah kerumunan, nama Patua Arrin Akka Dipiarsa menjadi pusat perhatian, seorang Kepala Dusun (Kasun) yang dianggap hanya ada namanya di atas kertas, namun batang hidungnya rtak pernah terlihat di tengah warga.
"Intinya, warga meminta agar pelayanan di dusun mereka kembali berjalan semestinya," ujar Camat Sawahan, Budi Fajarudin, saat menceritakan kembali suasana mediasi yang sempat memanas.
Ketidakhadiran Arrin dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di Dusun Sembung menjadi pemantik utama amarah warga. Bagaimana tidak, sang pemimpin wilayah tersebut justru diketahui berdomisili di luar dusun, membuat jarak antara birokrasi dan realitas masyarakat kian lebar.
Menurut Budi warga butuh sosok yang hadir di kala susah maupun senang, bukan sekadar simbol jabatan.
"Pak Kasun (Arrin) di hadapan warga menyampaikan permintaan maaf. Dia berjanji akan tinggal dan berdomisili di Dusun Sembung agar lebih aktif mengikuti kegiatan masyarakat," ungkap Budi Fajarudin.
Namun, urusan domisili Kasun hanyalah satu dari tumpukan persoalan di Sembung. Sambil membawa harapan besar, warga juga menuntut perbaikan infrastruktur jalan yang rusak parah serta pengaktifan kembali Polindes. Selama ini, akses kesehatan melalui bidan desa dirasa mati suri, padahal keberadaannya sangat vital bagi ibu dan anak di dusun terpencil tersebut.
“Sudah diajukan dan disetujui dua titik. Pelaksanaan tinggal menunggu dari PUPR Kabupaten Nganjuk,” jelas Budi terkait perbaikan jalur utama dari Dusun Turi hingga Dusun Sembung yang selama ini dikeluhkan warga sebagai akses yang menghambat ekonomi.
Sebagai penutup dari aksi yang berlangsung selama satu jam tersebut, Kepala Desa Sholikin mengambil langkah tegas dengan menyiapkan surat pernyataan untuk Arrin agar bekerja lebih maksimal.
Sholikin memastikan pintu Polindes akan segera terbuka kembali untuk melayani warga. Tepat pukul 10.30 WIB, massa pun membubarkan diri dengan satu harapan sederhana, melihat pemimpin mereka benar-benar hadir di depan pintu rumah mereka, bukan sekadar nama di papan struktur desa.
Editor : SRTVRedaksi