Kemarau Tapi Masih Hujan, Begini Penjelasan Ilmiah BMKG untuk Wilayah Nganjuk

Ilustrasi cuaca: Meski kemarau tiba, Nganjuk masih bakal diguyur hujan, terutama tanggal 15–16 Mei mendatang. (SRTV)
Ilustrasi cuaca: Meski kemarau tiba, Nganjuk masih bakal diguyur hujan, terutama tanggal 15–16 Mei mendatang. (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Meski secara resmi musim kemarau telah tiba, cuaca di Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya tak sepenuhnya kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih berpotensi turun dalam beberapa hari ke depan, meski sifatnya tidak merata dan hanya terjadi secara sporadis di titik-titik tertentu saja. Fenomena ini ternyata punya alasan ilmiah tersendiri yang dipengaruhi kondisi alam setempat.

"Di puncak itu kelembabannya masih tinggi. Jadi angin yang dipaksa naik ke atas puncak gunung sifatnya kering, kemudian di atas gunung masih relatif basah. Ini menyebabkan pertemuan antara masa udara kering dan udara lembab di atas gunung. Nah, terjadinya awan itu di balik gunung," jelas Setiyaris, PMG Madya BMKG Nganjuk, Minggu (10/5/2026)

Menurutnya, pertemuan dua massa udara yang berbeda sifat itu kemudian membentuk awan jenis lentikularis, yang bentuknya menyerupai cakram atau topi. Awan ini selanjutnya terbawa pergerakan angin dan menurunkan hujan di wilayah-wilayah tertentu.

"Diprediksi nanti mulai tanggal 14 itu ada gangguan atmosfer masuk yaitu gelombang Ekuatorial Rossby. Nah ini akan mengganggu dinamika atmosfer di wilayah Jawa Timur, nah puncaknya itu sekitar tanggal 15-16 Mei diprediksi hujan dalam skala yang luas," tambah Setiyaris, mengumumkan prediksi besar yang akan mengubah peta cuaca dalam waktu dekat.

Berbeda dengan hujan sporadis saat ini, gelombang ekuatorial Rossby yang masuk pertengahan Mei nanti akan memicu hujan yang jauh lebih luas jangkauannya. Hampir seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk dipastikan akan merasakan guyuran hujan, namun ada pembedaan jelas soal tingkat lebatnya curah hujan tergantung letak geografis daerah tersebut.

"Kalau untuk di Kabupaten Nganjuk itu hampir merata. Di utara dan selatan itu relatif intensitasnya lebih deras. Kemudian yang Nganjuk bagian tengah tetap kebagian hanya intensitasnya ringan," rinci Setiyaris lagi, merujuk pada kondisi topografi wilayah setempat.

Ia menegaskan, perbedaan kekuatan hujan ini sangat dipengaruhi oleh bentuk alam. Wilayah utara dan selatan yang berbatasan langsung dengan pegunungan dan perbukitan secara alami akan menerima intensitas lebih tinggi. Sementara wilayah tengah yang lebih datar hanya akan mendapatkan hujan dengan tingkat kepadatan yang lebih ringan.

"Jadi yang berbatas dengan pegunungan, perbukitan itu karena dipengaruhi wilayahnya yang topografinya perbukitan dan pegunungan, intensitasnya dia akan bertambah," tegasnya menutup penjelasan.

Informasi ini menjadi panduan penting bagi warga, petani, dan seluruh elemen masyarakat untuk menyiapkan diri. Meski kemarau, hujan tetao turun, ada yang ringan, ada yang deras, dan ada pula yang akan turun merata mulai pertengahan bulan ini.

Editor : SRTVRedaksi