Tim SAR Evakuasi Jenazah Pendaki dari Dasar Jurang Gunung Batukaru Tabanan Bali

Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi jenazah pendaki yang ditemukan di dasar jurang sedalam 90 meter di kawasan Gunung Batukaru, Tabanan. (Ist, SRTV)
Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi jenazah pendaki yang ditemukan di dasar jurang sedalam 90 meter di kawasan Gunung Batukaru, Tabanan. (Ist, SRTV)

TABANAN, SRTV.CO.ID – Sebuah operasi penyelamatan yang penuh perjuangan dan tantangan berat akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi jenazah pendaki yang sempat hilang dan dilaporkan tersesat di kawasan Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. 

Jenazah ditemukan tergeletak di dasar jurang curam di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut (Mdpl) pada Sabtu sore (9/5/2026), pukul 16.20 Wita, atau tepat satu pekan setelah operasi pencarian awal sempat dihentikan.

“Saat pertama kali ditemukan lokasinya, kami langsung menduga bahwa jenazah tersebut adalah Made Dibya (84), warga yang sebelumnya dilaporkan terpisah dari rombongan dan tersesat saat mendaki. Sebenarnya, operasi pencarian untuk warga lanjut usia ini sudah kami hentikan sejak Sabtu (2/5/2026) lalu karena sudah berjalan selama 7 hari tanpa hasil,” ungkap Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, Minggu (10/5/2026).

Kabar adanya penemuan baru ini langsung menggugah semangat tim. Meskipun pencarian sudah dinyatakan selesai, indikasi keberadaan korban membuat pihak Basarnas segera mengambil keputusan besar: membuka kembali operasi SAR yang sudah ditutup. 

Langkah cepat pun diambil, operator komunikasi langsung berkoordinasi dengan tim SAR Samapta Polda Bali serta pemandu lokal yang hafal seluk-beluk medan di kawasan Batukaru.

“Tepat pukul 16.40 WITA, kami segera memberangkatkan 5 personel dari kantor kami di Jimbaran, Kuta Selatan, menuju posko pendakian. Namun, karena kondisi sudah larut malam, pencahayaan sangat minim, dan medan sangat berisiko, kami sepakat untuk menunda penurunan ke lokasi hingga keesokan pagi demi keselamatan tim,” tambahnya menjelaskan strategi yang diambil.

Minggu pagi, tepat pukul 08.00 WITA, tim penyelamat kembali bergerak berangkat dari titik ketinggian 1.197 Mdpl menuju lokasi penemuan. Perjalanan yang seharusnya tidak terlalu jauh berubah menjadi perjuangan berat melewati jalanan terjal, licin, dan tertutup vegetasi lebat. 

Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari dua jam, tepat pukul 10.20 Wita, tim akhirnya berhasil mencapai titik koordinat 8°20'46.67"S - 115°5'6.32"E, berada di ketinggian 1.808 Mdpl. Di sanalah jenazah terlihat berada di dasar jurang yang kedalamannya mencapai kurang lebih 90 meter.

"Untuk proses evakuasi berlangsung sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Medan berbatu yang tidak stabil, permukaan tanah yang sangat licin karena kelembapan tinggi, serta kabut tebal yang membatasi jarak pandang menjadi musuh utama tim.' katanya.

Belum lagi kondisi jenazah yang sudah mengalami pembengkakan dan pembusukan, membuat proses pengangkatan semakin sulit dan butuh keahlian khusus agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Anggota kami harus turun satu per satu, mengikatkan diri pada tali pengaman, dan saling bergantian menurunkan jenazah ke atas. Cuaca dingin, kabut turun naik, dan batu-batu sering kali longsor sedikit saja terinjak. Ini adalah salah satu evakuasi terberat yang kami lakukan belakangan ini,” tuturnya.

Perlahan namun pasti, jerih payah tim terbayar lunas. Pukul 11.45 WITA, jenazah berhasil ditarik naik ke pinggir jurang dengan selamat. Perjuangan belum selesai, jenazah kemudian ditandu secara estafet beramai-ramai menuruni lereng Gunung Batukaru menuju Posko SAR Gabungan di Jatiluwih. 

"Perjalanan turun memakan waktu cukup lama, hingga akhirnya seluruh rangkaian evakuasi resmi dinyatakan selesai pada pukul 13.40 WITA," Jelasnya.

Sesampainya di posko, jenazah segera diserahkan kepada pihak keluarga. Proses pemindahan dilanjutkan menggunakan ambulans dari Bhuana Bali Rescue menuju rumah duka. 

"Operasi ini melibatkan puluhan personel dari berbagai unsur: Basarnas Denpasar, Ditsamapta Sabhara Polda Bali, Polres Tabanan, BPBD, Bhuana Bali Rescue, PMI, ORARI, komunitas pendaki, hingga warga lokal yang bahu-membahu membantu." Tambahnya.

Meski hasilnya bukan kabar gembira, keberhasilan menemukan dan membawa pulang jenazah Made Dibya menjadi penutup yang meringankan beban keluarga, sekaligus membuktikan bahwa tim penyelamat tidak akan pernah berhenti berusaha selama masih ada harapan sekecil apa pun.

Editor : SRTVRedaksi