Puluhan Mantan Kepala Sekolah Kediri Road Trip Jelajahi Pesona Bumi Anjuk Ladang

Rombongan Paguyuban Pamankaspri Kediri berfoto bersama di Monumen CB Nganjuk, menandai keberhasilan perjalanan wisata sejarah mereka (Mr Boni)
Rombongan Paguyuban Pamankaspri Kediri berfoto bersama di Monumen CB Nganjuk, menandai keberhasilan perjalanan wisata sejarah mereka (Mr Boni)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Memasuki masa pensiun bukan berarti berhenti beraktivitas atau mengurung diri di rumah. Buktinya, puluhan mantan kepala sekolah SMP Negeri se-Kabupaten Kediri yang tergabung dalam Paguyuban Mantan Kepala Sekolah (Pamankaspri), justru makin aktif dan produktif. 

Mereka kembali menggelar agenda rutin bulanan berupa road trip keliling menggunakan sepeda motor. Kali ini, rombongan berangkat sejak pagi hari menyusuri jalanan menuju Kabupaten Nganjuk, berkeliling hingga sore hari sambil menikmati keindahan alam dan sejarah daerah tetangga tersebut, Sabtu (9/5/2026),

“Kami keliling, melihat-lihat tempat baru, sambil bernostalgia dan mempererat persaudaraan antar sesama mantan pemimpin sekolah,” ujar Den Pram, Ketua Pamankaspri Kediri, saat ditemui awak media sesaat sebelum berfoto bersama di Monumen CB, kompleks Stadion Warujayeng Nganjuk.

Rute perjalanan hari ini sudah disusun matang dan penuh makna sejarah. Dari titik awal kedatangan, rombongan menyambangi sederet lokasi ikonik dan bersejarah di Nganjuk. 

Pertama, mereka berziarah ke Makam Marsinah, kemudian berhenti sejenak dan berfoto di Monumen CB, berlanjut ke Taman Anjuk Ladang yang menjadi jantung kota, hingga berakhir di Makam Ki Ageng Keniten, tokoh pendiri dan penyebar agama Islam di Bumi Anjuk Ladang.

Setiap lokasi disambangi dengan antusiasme tinggi, seolah usia hanyalah angka belaka bagi para bapak-bapak yang penuh semangat ini.

“Rute hari ini sudah kami sepakati bersama. Mulai dari makam Marsinah, tempat bersejarah, hingga ruang terbuka publik. Kami ingin sekaligus belajar sejarah daerah tetangga, melihat perkembangannya, dan tentu saja menikmati perjalanan yang asyik bersama teman-teman seangkatan,” tambah Den Pram.

Meski kini sudah melepas seragam dinas dan jabatan, kehidupan mereka tetap berjalan aktif dan sejahtera. Banyak di antara anggota paguyuban ini yang kini memiliki usaha atau bisnis mandiri di rumah masing-masing. 

Hasilnya merupakan buah dari ketekunan menabung dan merencanakan masa depan saat masih aktif mengabdi di dunia pendidikan dulu. 

Kemandirian finansial ini menjadi salah satu pendorong utama agar mereka tetap bisa bergerak bebas, berkegiatan, dan menyalurkan hobi tanpa beban.

“Selain hobi jalan-jalan, kami juga banyak yang punya usaha sendiri di rumah. Itu semua hasil tabungan dan persiapan matang saat masih menjabat dulu. Jadi saat pensiun seperti ini, kami tidak diam saja, tapi tetap produktif, punya penghasilan sendiri, dan tetap bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” jelasnya lebih lanjut.

Bagi para mantan pemimpin sekolah ini, masa pensiun adalah waktu yang tepat untuk mengembangkan hobi dan kreativitas yang dulu sempat tertunda karena kesibukan mengurus sekolah dan administrasi.

Ada yang menekuni menulis, melukis, bermusik, hingga bercocok tanam. Segala hal yang dulu sulit dilakukan karena terbatas waktu, kini bisa ditekuni sepenuh hati sebagai sarana menjaga kesehatan fisik dan ketenangan jiwa.

“Bagaimanapun juga, kami butuh rekreasi dan penyegaran. Mengingat usia sudah menginjak senja, kami harus pandai-pandai menjaga kesehatan dan pikiran. Pilihan terbaik adalah berkumpul kembali dengan teman-teman seprofesi, teman seperjuangan dulu. Dari situlah terbentuk paguyuban ini, agar kami tetap saling menguatkan, berbagi cerita, dan menikmati masa tua dengan bahagia,” tutur Den Pram mengakhiri percakapan.

Kegiatan road trip ini pun berakhir ceria. Di balik helm dan jaket mereka, terpancar kebahagiaan yang tulus: bukti nyata bahwa semangat, persaudaraan, dan rasa ingin tahu tidak pernah menua, meski rambut mulai memutih dan usia menanjak tinggi.

Editor : SRTVRedaksi