Menolak Lupa, Bukan Sekadar Tumpengan, Begini Rahasia Tradisi Tayub di Nyadran Desa Kepanjen, Pace 

Kepala Desa Kepanjen Pace, Sugeng Purnomo memberikan sambutan saat nyadran sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur  (Mr Boni/SRTV)
Kepala Desa Kepanjen Pace, Sugeng Purnomo memberikan sambutan saat nyadran sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur  (Mr Boni/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Aroma wangi kemenyan dan semerbak bunga berpadu dengan kepulan asap dari ratusan tumpeng yang berjajar rapi di area Makam Mbah Panji. Pagi ini, tepat pada Jumat Legi,  (3/7/2026) suasana di Dusun Kepanjen, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, terasa begitu khidmat namun bersahaja.

Ratusan warga berkumpul, duduk bersila melingkari sesaji dalam ritual tahunan yang telah mengakar selama ratusan tahun Bersih Desa atau Nyadran.

Bagi masyarakat setempat, Nyadran bukan sekadar rutinitas kalender Jawa, melainkan sebuah ikatan batin yang sakral dengan leluhur mereka.

Ritual ini merupakan bentuk sujud syukur atas perjuangan Mbah Panji, sosok babat alas (pendiri) yang berhasil mempertahankan wilayah ini hingga tegak berdiri menjadi Desa Kepanjen yang dikenal sekarang.

"Agenda ini sudah menjadi tanggung jawab juga sudah tradisi atau adat warga kami," ujar Kepala Desa Kepanjen, Sugeng Purnomo, di sela-selap prosesi ritual.

Setelah doa-doa keselamatan dipanjatkan dan berkat tumpeng dibagikan sebagai simbol sodakohan (sedekah) antar warga, suasana sakral itu perlahan berganti menjadi meriah.

Alunan gamelan mulai bertalu-talu, memecah keheningan pagi. Inilah momen yang paling dinanti pergelaran Langen Bekso atau seni Tayub.

Bagi Desa Kepanjen, kehadiran penari Tayub bukanlah hiburan sembarangan. Kesenian ini merupakan klangenan atau kesukaan khusus dari sang leluhur, Mbah Panji, yang wajib dihadirkan setiap kali hari pasaran Jumat Legi tiba dalam prosesi bersih desa.

"Bukan cukup shodakohan atau tumpengan saja, Desa Kepanjen punya kelangenan sendiri, yaitu langen bekso atau tayub," ucap Sugeng Purnomo, yang juga menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Nganjuk.

Melalui perpaduan antara doa, sedekah, dan pelestarian seni tradisional ini, tersimpan harapan besar bagi masa depan seluruh masyarakat desa.

Ritual ini menjadi pengingat agar warga selalu menjaga kerukunan dan kegotongroyongan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

"Semoga setelah melaksanakan nyadran atau bersih desa, warga semuanya diberi rezeki yang melimpah, sehat semua, guyub, rukun, dan sukses, serta Desa Kepanjen tetap Tanggap, Tangguh, Tanggon," harap Sugeng Purnomo menutup perbincangan.

Tradisi Nyadran dan Tayuban di Desa Kepanjen ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran zaman modern, masyarakat Pace Nganjuk tetap teguh memegang pepatah Jawa "Wong Jawa aja lali Jawane" orang Jawa jangan sampai lupa akan identitas dan asal-usulnya

Editor : SRTVRedaksi