Menuju Indonesia Emas 2045, Bakesbangpol Nganjuk 'Bentengi' Ideologi Pelajar dari Radikalisme Digital

Ilustrasi, Bakesbangpol Pemkab Nganjuk telah merampungkan sosialisasi dan diskusi interaktif di 8 sekolah 
Ilustrasi, Bakesbangpol Pemkab Nganjuk telah merampungkan sosialisasi dan diskusi interaktif di 8 sekolah 

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Nganjuk kini tengah masif menjalankan program pemantapan wawasan kebangsaan yang menyasar para pelajar di 20 sekolah menengah (SMA/SMK/MA) se-Kabupaten Nganjuk. Langkah strategis ini diambil secara sengaja untuk menyiapkan mental dan ideologi para remaja dalam menyongsong gerbang Indonesia Emas 2045.

Kepala Bakesbangpol Nganjuk, Eko Sutrisno, memaparkan pentingnya pengawalan mental generasi muda sejak dini agar tidak salah arah di masa depan.

"Anak-anak sekolah yang saat ini berusia 16 hingga 18 tahun, dalam kurun waktu 19 tahun ke depan akan berada di usia sangat produktif (sekitar 35 tahun) tepat saat Indonesia Emas 2045. Jika tidak kita kawal fondasi ideologinya dari sekarang, dikhawatirkan mereka akan kehilangan arah akibat derasnya penetrasi teknologi informasi yang tak terbendung," jelas Eko Jumat (5/6/2026)

Dari target 20 sekolah yang dibidik, Bakesbangpol tercatat telah merampungkan agenda sosialisasi dan diskusi interaktif di 8 sekolah. Pendekatan dilakukan secara dua arah demi memancing pemahaman siswa mengenai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam kesempatan tersebut, Eko Sutrisno secara gamblang menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar wawasan kebangsaan saat ini adalah penyalahgunaan gawai (smartphone) di kalangan anak muda.

"Ruang digital yang tanpa batas kerap dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan paham ekstremisme secara sepihak kepada anak-anak yang memiliki kecenderungan tertutup (introvert) atau korban perundungan (bullying)," urai Eko memetakan kerawanan sosial media.

Sebagai langkah preventif, Bakesbangpol mengimbau masyarakat luas untuk menerapkan prinsip literasi digital yang diadopsi dari Diskominfo, yaitu "Saring Sebelum Sharing". 

Langkah filtrasi ini dinilai efektif untuk meredam penyebaran berita bohong (hoax) yang dapat memicu konflik horizontal maupun mendiskreditkan instansi pemerintah, seperti isu jembatan rusak yang sempat viral secara tidak valid beberapa waktu lalu.

Selain sosialisasi di sekolah dan forum desa, implementasi nyata wawasan kebangsaan oleh Bakesbangpol Nganjuk diwujudkan melalui program rutin rekrutmen Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). 

Pada tahun 2026 ini, proses seleksi berbasis sistem IT terpadu berhasil menjaring 602 pendaftar dari 52 sekolah negeri dan swasta, hingga menyisakan 76 personel terbaik yang digembleng secara fisik maupun ideologi Pancasila.

Tak bergerak sendiri, Bakesbangpol juga aktif bersinergi bersama Dinas Pendidikan (Disdik) untuk jenjang SD-SMP, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi, hingga berkolaborasi dengan BNN dalam program P4GN guna membentengi sekolah dari bahaya peredaran narkoba.

Menutup dialog, Eko Sutrisno mengajak seluruh warga Kabupaten Nganjuk, khususnya generasi Z dan Alpha, untuk bangga terhadap potensi lokal serta produk dalam negeri. 

Di samping itu, penguatan struktur sosial di tingkat terbawah seperti RT, RW, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas perlu dioptimalkan sebagai instrumen deteksi dini jika ditemukan aktivitas kelompok yang menyimpang di lingkungan sekitar.

"Teknologi tidak mungkin kita tinggalkan, namun bijaklah dalam menggunakannya agar tidak menghantam diri kita sendiri. Sesuai dengan slogan Nganjuk sebagai 'Tanah Kemenangan', generasi penerus harus menjadi petarung (fighter) yang kuat demi memastikan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berdiri kokoh," pungkas Eko Sutrisno menutup arahannya.

Editor : SRTVRedaksi