Ribuan Warga Berebut Gunungan Sayur Demi Berkah Pancasila

Ribuan warga memadati halaman Makam Bung Karno; antusias berebut isi Gunungan Lima berisi hasil bumi, tradisi puncak peringatan Hari Lahir Pancasila Kota Blitar. (Aziz, SRTV)
Ribuan warga memadati halaman Makam Bung Karno; antusias berebut isi Gunungan Lima berisi hasil bumi, tradisi puncak peringatan Hari Lahir Pancasila Kota Blitar. (Aziz, SRTV)

BLITAR, SRTV.CO.ID – Kompleks Makam Bung Karno mendadak jadi lautan manusia pada Senin (01/6/2026). Ribuan warga dari berbagai daerah antusias memadati area tersebut demi berebut "Gunungan Lima", sebuah tradisi tahunan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang digelar oleh Pemerintah Kota Blitar.

“Saya dari Kediri dan setiap tahun ke Kota Blitar. Selain makan tumpeng gratis, juga berebut sayuran ini. Saya punya sawah, mudah-mudahan tahun ini semakin berkah,” ujar Suprihatin, salah seorang warga asal Ngancar, Kabupaten Kediri yang rela datang jauh-jauh demi momen ini.

Kemeriahan peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Blitar sejatinya sudah terasa sejak Minggu malam melalui rentetan acara sakral dan budaya. 

Mulai dari pawai lampion yang memukau, prosesi bedhol pusaka, hingga lantunan syahdu macapatan. 

Memasuki Senin pagi, suasana khidmat menyelimuti upacara bendera, di mana sejumlah Gunungan Lima hasil sumbangan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan sekolah-sekolah di Blitar mulai dipajang.

Gunungan itu disuguhkan dari sejumlah organisasi perangkat daerah atau OPD hingga sekolah, menggambarkan antusiasme instansi Pemerintah setempat dalam menyukseskan acara.

Usai upacara, gunungan yang sarat akan simbol kemakmuran tersebut dikirab menuju kompleks Makam Bung Karno dengan menempuh jarak sekitar 1 kilometer lebih. 

Setibanya di lokasi tujuan, suasana langsung pecah saat warga mulai berebut aneka isi gunungan yang terdiri dari sayur-mayur seperti kacang, mentimun, pare, wortel, labu, hingga buah-buahan segar seperti salak, nanas, dan belimbing.

Usai berebut sayuran, warga pun kompak makan bareng tumpengan untuk menutup ritual budaya dengan riang dan rasa kebersamaan yang erat.

Editor : SRTVRedaksi