JOMBANG, SRTV.CO.ID – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang langsung memasang target ambisius usai melantik secara serentak 21 Pengurus Anak Cabang (PAC) untuk masa bakti 2026–2031. Partai berlambang Banteng Moncong Putri ini menargetkan perolehan 14 kursi di DPRD Jombang pada Pemilu 2029 mendatang, sekaligus bertekad merebut kembali kursi pimpinan atau Ketua DPRD yang lepas pada periode sebelumnya.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Gedung Niaga Jaya, Jalan Brigjen Kretarto, Candi Mulyo, Sabtu (30/5/2026). Acara ini dihadiri jajaran pengurus DPP, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, hingga seluruh elemen pengurus DPC Jombang guna memperkuat barisan menjaga konsolidasi organisasi.
Ketua DPC PDI Perjuangan Jombang, Sumrambah, menegaskan bahwa momen pelantikan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan menjadi titik awal gerakan pemulihan dan konsolidasi besar-besaran untuk mengembalikan kejayaan partai di Kota Santri.
"Kita harus melakukan evaluasi menyeluruh agar pada Pemilu 2029 nanti mampu mencapai target 14 kursi. Potensi penambahan kursi masih sangat terbuka di Daerah Pemilihan (Dapil) 3. Sementara itu, kursi yang sempat hilang di Dapil 4, 5, dan 6 harus kita rebut kembali," tegas Sumrambah.
Politisi yang juga mantan Wakil Bupati Jombang ini menegaskan, angka 14 kursi bukan sekadar target matematika politik, melainkan wujud nyata upaya mengembalikan marwah PDI Perjuangan sebagai kekuatan politik utama dan penentu kebijakan di Kabupaten Jombang.
Untuk mewujudkan target tersebut, Sumrambah memberikan arahan tegas agar seluruh struktur partai, mulai tingkat PAC hingga ke tingkat Ranting, menyelaraskan gerak organisasi dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, kader partai harus kembali hadir secara nyata di tengah masyarakat, tidak hanya aktif saat menjelang pemilu saja.
"Seperti yang sering disampaikan Ibu Mega, kita membutuhkan kader-kader yang mau turun ke bawah, yang mau menangis dan tertawa bersama rakyat. Kader yang memahami apa yang dirasakan masyarakat, bukan kader yang hanya sibuk di dalam ruangan," ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Sumrambah mewajibkan seluruh anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Jombang untuk melakukan kunjungan rutin ke wilayah-wilayah ranting minimal empat kali dalam setiap bulan.
"Kita harus hadir secara fisik dan jiwa di tengah masyarakat. Jarak antara partai dan rakyat tidak boleh lebar, harus terus kita perkecil dengan kehadiran," imbuhnya.
Selain memperkuat mesin politik lewat pertemuan langsung, DPC PDI Perjuangan Jombang juga mulai mengubah pendekatan kerja di tingkat akar rumput dengan konsep baru. Salah satunya adalah mentransformasi "Posko Perjuangan 99" menjadi "Posko Pangan".
Konsep ini menjadikan kantor-kantor partai tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat konsolidasi politik, tetapi berubah menjadi ruang pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ketahanan pangan dan pertanian mandiri.
"Kami sudah memulai mengubah Posko Perjuangan 99 menjadi Posko Pangan. Di lokasi-lokasi tersebut kini ditanami berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga di sekitarnya. Bagi kami, politik harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk lewat gerakan menanam dan memenuhi kebutuhan pangan sendiri," ujar Sumrambah.
Deni Wicaksono: Pertarungan Politik Masa Depan Ada di Ruang Digital dan AI
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang juga Wakil Ketua DPRD Jatim, Deni Wicaksono, memberikan peringatan tajam kepada seluruh kader. Ia mengingatkan bahwa medan pertarungan politik ke depan tidak hanya terjadi di lapangan atau jalanan, tetapi juga beralih dan berkembang pesat di ruang digital, didorong oleh kemajuan teknologi hingga Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).
"Ke depan, AI akan menjadi ruang pertempuran politik yang sangat dahsyat. Jika kita tidak bersiap, tidak belajar, dan tidak beradaptasi, kita akan tertinggal jauh. Pemilu 2024 kemarin sudah menjadi bukti kuat bagaimana media sosial mampu membentuk opini publik secara masif dan cepat," kata Deni.
Menurutnya, kekuatan branding dan narasi di ruang digital bahkan mampu menggeser perhatian masyarakat terhadap berbagai peristiwa penting, sejarah bangsa, hingga kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, kader wajib melek teknologi dan memahami perubahan perilaku masyarakat di era serba terhubung.
"Media sosial memberi pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat. Pertarungan politik mendatang akan berlangsung di tiga medan sekaligus: darat, udara, dan ruang persepsi yang dibangun melalui platform digital. Kita harus kuasai ketiganya," tegasnya.
Sadarestuwati: PDIP Satu-satunya Penyeimbang di Luar Pemerintah
Sementara itu, Anggota DPR RI sekaligus Ketua Bidang Pertanian dan Pangan DPP PDI Perjuangan, Sadarestuwati, menegaskan posisi strategis partainya sebagai kekuatan penyeimbang tunggal di luar pemerintahan di tingkat nasional.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Estu ini menekankan bahwa PDI Perjuangan memiliki tanggung jawab besar untuk tetap lantang menyuarakan aspirasi rakyat di tengah berbagai persoalan ekonomi yang belakangan ini makin terasa berat di masyarakat.
"Hari ini, bangsa ini seolah bersandar kepada PDI Perjuangan. Mengapa? Karena satu-satunya partai besar yang berada di luar pemerintah dan berfungsi sebagai penyeimbang kebijakan, tinggal kita. Kami berkomitmen menjaga suara rakyat agar tidak tenggelam," ujarnya.
Ia meminta seluruh anggota fraksi PDI Perjuangan di berbagai tingkatan lebih aktif menyuarakan persoalan rakyat dan tidak takut mengkritisi kebijakan yang dinilai tidak berpihak atau memberatkan masyarakat banyak.
Dalam pidatonya, Sadarestuwati juga menyoroti kondisi ekonomi makro nasional, mulai melemahnya nilai tukar rupiah, tingginya harga pangan, hingga ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan pokok. Menurutnya, kondisi ini berdampak langsung dan nyata terhadap daya beli masyarakat di daerah.
"Bohong kalau kenaikan nilai dolar atau gejolak ekonomi global tidak berpengaruh ke ekonomi daerah. Lihat saja, beras, kedelai, hingga jagung kita masih bergantung pada impor. Di sisi lain, kita bicara swasembada, tapi lahan produktif terus berkurang. Bahkan ada rencana membuka kawasan hutan untuk pertanian, ini berbahaya. Jika hutan terus berkurang, anak cucu kitalah yang akan menanggung dampak bencananya nanti," kritiknya.
Sebagai langkah penguatan ideologi dan pemahaman sejarah partai menj Pemilu 2029, Sadarestuwati mengumumkan pembukaan kembali Sekolah Partai pada bulan Juli mendatang. Seluruh pengurus PAC yang baru saja dilantik di Jombang diwajibkan mengikuti pendidikan kader tersebut.
Wiwin Sumrambah: Desak Operasi Pasar dan Perluas Bantuan Bibit
Di lokasi yang sama, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Wiwin Sumrambah, turut menyoroti tren kenaikan harga bahan pangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di wilayah Jatim. Menurutnya, lonjakan harga dipengaruhi gabungan faktor, mulai ketegangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi, tingginya kebutuhan pangan untuk program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga cuaca ekstrem yang mengganggu jadwal panen petani.
"Kenaikan harga pangan ini bukan tunggal penyebabnya. Ada pengaruh kondisi politik global, ada kebutuhan besar untuk program SPPG, dan ada faktor perubahan cuaca yang memengaruhi hasil panen. Dampaknya langsung terasa ke kantong masyarakat," jelasnya.
Karena itu, Wiwin mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera melakukan operasi pasar secara berkala guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar tetap terjangkau.
Selain itu, ia juga meminta pemerintah memperluas program bantuan bibit tanaman pangan tidak hanya untuk kelompok tani, tetapi juga disebar ke masyarakat umum. Tujuannya agar ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada petani besar, tetapi dimulai dari skala keluarga.
"Kami ingin masyarakat juga bisa menanam kebutuhan pangannya sendiri di pekarangan. Sehingga ketahanan pangan dimulai dari keluarga, dari rumah masing-masing. Itu yang paling kokoh," pungkasnya.
Editor : SRTVRedaksi