Sukses Ekspor Beras ke Saudi & Jadi Pilot Project Kedelai Nasional, Nganjuk Kini Fokus Dongkrak Isi Dompet Petani

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi Panen raya Kedelai di Wilangan Nganjuk belum lama ini (SRTV)
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi Panen raya Kedelai di Wilangan Nganjuk belum lama ini (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Nganjuk sukses mencetak rapor hijau sepanjang tahun 2025. Tidak hanya berhasil mengamankan stok pangan lokal, Nganjuk bahkan mampu mengekspor 100 ton beras ke Arab Saudi dan resmi ditunjuk menjadi proyek percontohan (pilot project) kedelai nasional oleh Kementerian Pertanian.

"Keberhasilan ini disokong oleh luas tanam padi yang menembus 92.000 hektar, jagung 28.000 hektar, dan kedelai 7.227 hektar. Nganjuk juga mempertahankan posisinya sebagai produsen bawang merah terbesar nomor dua di Indonesia berkat keunggulan benih varietas Tajuk." Ungkap Kepala Diperta Nganjuk, Ida Shobihatin, Jumat (22/5/2026)

Di sektor peternakan, performanya tidak kalah mentereng. Populasi sapi potong di Nganjuk mencapai 117.000 ekor (menyumbang 3,2% kebutuhan Jawa Timur), disusul 126.000 ekor kambing, dan 71.000 ekor domba. 

"Terkait penyakit menular seperti PMK dan LSD pun berhasil ditekan berkat pengawasan lalu lintas ternak yang ketat dan gratis," jelasnya 

Masuk tahun 2026, Ida Shobihatin, menegaskan bahwa fokus kerja dispertan saat ini bergeser. Target utama bukan lagi sekadar mengejar angka produksi, melainkan memastikan keuntungan langsung masuk ke kantong para petani.

"Rapor baik dari kementerian memang membanggakan, namun muara akhir dari seluruh peningkatan produksi ini harus dirasakan langsung lewat peningkatan kesejahteraan dan keuntungan para petani di lapangan," tegas Ida

Untuk mewujudkannya, Diperta mengombinasikan budidaya tanaman sehat dengan pengurusan Sertifikasi Prima 3 dari Otoritas Keamanan Pangan Jawa Timur. 

"Tujuannya apa, agar hasil panen padi dan bawang merah Nganjuk punya nilai jual yang lebih tinggi dan kompetitif karena terjamin aman dikonsumsi" jelasnya 

Merespons peringatan BMKG terkait potensi kemarau ekstrem (El Nino) pada pertengahan 2026 ini, Diperta Nganjuk telah menyiapkan 3 langkah penyelamatan agar lahan pertanian tidak mengalami puso (gagal panen).

Yang pertama adalah Peta Zona Merah, Mengawasi ketat wilayah yang langganan kekeringan, seperti Kecamatan Jatikalen, Lengkong, dan sebagian Gondang.

"Kedua Mengoptimalkan bantuan mesin pertanian dan pompa irigasi dari dana APBN serta APBD. Dan ketiga mengimbau petani menampung sisa hujan ke dalam embung dan beralih menanam palawija (seperti jagung) atau tembakau yang lebih tahan cuaca kering." Pungkasnya.

Melalui persiapan matang dan kerja sama dengan para sedulur tani, Pemkab Nganjuk optimistis swasembada pangan daerah akan tetap kokoh sepanjang tahun ini.

Editor : SRTVRedaksi