NGANJUK, SRTV.CO.ID – Klenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro menjadi saksi berkumpulnya berbagai elemen umat beragama dalam sebuah prosesi ritual yang sarat akan makna kedamaian.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, turut hadir mewakili jajaran pemerintah daerah untuk mengikuti prosesi hening dan meditasi bersama Bhante.
"Jadi gini, saya mewakili teman-teman pemerintah daerah. Nah, yang terpenting dari Bhante tadi, bahwa kita ini diajak hening. meditasi," ujar Gunawan saat memberikan keterangan pasca-acara. Rabu (20/5/2026)
Ia menambahkan bahwa meski setiap umat berdoa dengan tata cara dan bahasa agamanya masing-masing, esensi dari menghargai sesama tetap menjadi yang utama. Sebagai seorang Muslim, ia memandang keheningan ini sebagai bentuk berserah diri kepada Allah SWT.
Saat ditanya mengenai refleksi personal setelah mengikuti ritual tersebut, Gunawan mengaku merasakan ketenangan yang luar biasa.
Kombinasi antara suasana yang hening dengan pengaturan napas yang baik diakuinya mampu memberikan efek kesegaran yang instan bagi tubuh dan pikiran.
"Yang dirasakan tentunya kalau hening, kita padukan dengan pernapasan. Pernapasan tentunya nanti akan membuat fresh kita" ungkapnya.
Menurut Gunawan, meditasi ini menjadi momen penting bagi setiap orang untuk merenungkan diri dan kembali ke fitrah kemanusiaan yang suci.
Bagi Gunawan, momen bermeditasi langsung dipandu oleh seorang Bhante di klenteng Sukomoro tersebut merupakan pengalaman pertama kalinya.
Kendati demikian, atmosfer spiritual dan keberagaman seperti ini bukanlah hal baru bagi dirinya yang memang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
"Kalau saya sebetulnya dengan Bhante, mungkin baru sekali ini. Tetapi saya waktu di Thailand, di tempat pemujaan tertentu yang ala sana, saya juga tetap mengunjungi itu, menghargai cultural understanding," kenang Gunawan.
Ia mengisahkan pengalamannya terdahulu saat mengunjungi Thailand dalam rangka studi banding Diklat PIM II ke Municipal City (Pemerintah Daerah setempat) pada masa pemerintahan Bupati Taufiqurahman.
Menutup perbincangan, Gunawan menegaskan bahwa klenteng tempat acara berlangsung merupakan simbol nyata dari rumah keberagaman, di mana semua pemeluk agama dapat diterima dengan tangan terbuka untuk saling menghormati di bawah naungan Tuhan Yang Maha Esa.
Editor : SRTVRedaksi