NGANJUK, SRTV.CO.ID - Hari ini, tepat 118 tahun berlalu sejak benih kesadaran persatuan pertama kali bertumbuh lewat berdirinya Budi Utomo.
Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar tanggal merah di kalender, melainkan peringatan abadi bahwa kemajuan bangsa selalu bermula dari keberanian untuk bersatu, berjuang, dan membela hak serta harga diri bersama.
Di usia ke-118 ini, tema besar yang diusung “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menjadi pengingat utama bagi kita semua.
Kebangkitan sejati tidak terletak pada kemegahan pembangunan semata, melainkan pada bagaimana kita merawat, mendidik, dan mempersiapkan generasi muda sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa.
Di tangan para pemuda, di pundak para tunas bangsa itulah, lahir kekuatan sesungguhnya untuk menjaga kedaulatan, menjunjung tinggi nilai persatuan, dan membawa negeri ini menuju kemajuan yang gemilang.
Jika kita menengok sejarah perjuangan bangsa, kita akan menemukan bahwa kebangkitan itu tidak hanya ditulis oleh para pemimpin besar di ibu kota, tetapi juga oleh anak-anak bangsa yang lahir dan besar di pelosok desa, yang berjuang dari posisi paling bawah demi keadilan dan martabat.
Di Kabupaten Nganjuk, Bumi Anjuk Ladang yang kita cintai ini, kita memiliki satu nama besar yang wajib diwariskan nilainya kepada setiap generasi muda, Marsinah. Buruh perempuan asal Dusun Nglundo, Kecamatan Sukomoro ini, adalah bukti nyata bahwa semangat kebangkitan masih hidup dan bernapas hingga masa-masa belakangan.
Marsinah bukan sekadar nama dalam daftar sejarah, ia adalah simbol keberanian, keteguhan hati, dan perjuangan membela hak sesama manusia. Ia gugur, saat memperjuangkan nasib kaumnya. Namun pemikirannya, keberaniannya, dan pengorbanannya tetap hidup sebagai cahaya penuntun.
Perjuangan Marsinah 32 tahun lalu mendapat penghormatan. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada 16 Mei 2026 kemarin meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah yang berdiri tegak di tanah kelahirannya, di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro. Nganjuk.
Peresmian ini bukan sekadar pembukaan bangunan baru, melainkan pengukuhan kembali bahwa perjuangan Marsinah adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Sebuah langkah bersejarah yang mengingatkan kita, kedaulatan negara tidak hanya dijaga di perbatasan oleh para tentara, tetapi juga dibangun di atas kedaulatan sosial, kedaulatan ekonomi, dan keadilan bagi seluruh rakyatnya, nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Marsinah dengan segenap jiwa raganya.
Inilah mengapa tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menjadi sangat relevan dan menyentuh hati kita warga Nganjuk.
Menjaga tunas bangsa berarti mengenalkan para pemuda pada sosok-sosok seperti Marsinah.
Mengajarkan kepada anak cucu kita bahwa menjadi pejuang tidak harus mengangkat senjata, tetapi bisa dilakukan dengan cara bekerja keras, berani menyuarakan kebenaran, peduli pada nasib sesama, dan berjuang agar keadilan benar-benar terwujud di bumi pertiwi.
Marsinah adalah bukti bahwa dari desa yang sederhana, lahir pemikiran besar yang menggetarkan dunia. Ia mengajarkan kita bahwa kedaulatan negara akan kuat jika di dalamnya tercipta keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan bagi setiap warganya, tanpa terkecuali.
Museum Marsinah yang kini telah berdiri megah dan resmi dibuka menjadi ruang hidup bagi sejarah, sekaligus ruang belajar bagi generasi muda.
Di sanalah para tunas bangsa dapat datang, melihat, dan meresapi semangat perjuangan seorang buruh yang berani melawan ketidakadilan.
Di sanalah mereka belajar bahwa kebangkitan nasional itu berarti bangkit dari keterbelakangan, bangkit dari ketidakadilan, dan bangkit untuk menegakkan hak asasi manusia serta kesejahteraan bersama.
Nilai-nilai inilah yang harus kita tanamkan, rawat, dan tumbuhkembangkan di dada setiap pemuda masa kini.
Tantangan zaman kini memang berbeda dengan masa lalu. Tidak ada lagi penjajah bersenjata, namun tantangan penjajahan baru berupa kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan lunturnya nilai-nilai luhur bangsa masih mengintai.
Di sinilah peran kita semua, menjadikan kisah Marsinah sebagai api semangat. Mengajarkan pemuda bahwa menjaga kedaulatan negara berarti menjaga kemandirian berpikir, menjaga kejujuran, menjaga hak-hak rakyat kecil, dan terus berjuang agar Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur.
Di tangan para pemuda peneruslah estafet ini akan diteruskan. Merekalah yang kelak akan mengisi ruang-ruang perjuangan, meneruskan cita-cita kemerdekaan, dan menjaga agar nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pahlawan, mulai dari Budi Utomo hingga sosok Marsinah, tidak pernah pudar.
Maka, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 ini mengajak kita untuk bertekad bulat, Mari jaga tunas bangsa. Mari didik mereka dengan nilai keberanian, kebenaran, dan keadilan seperti yang dicontohkan Marsinah.
Agar kelak, dari barisan pemuda masa kini, lahir pemimpin-pemimpin tangguh, pekerja-pekerja yang berintegritas, dan rakyat yang cinta tanah air, yang mampu membawa Nganjuk dan Indonesia menuju kemajuan yang gemilang, berdaulat, dan bermartabat setinggi langit.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118
Semangat Marsinah, Semangat Kebangkitan, Tegakkan Kedaulatan Negara.
Salam Redaksi
Editor : SRTVRedaksi