El Nino 2026 Intai Nganjuk, BMKG Warning Puncak Kemarau Kering Mulai Agustus

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Ilustrasi BMKG mengimbau masyarakat Nganjuk untuk menghemat air dan menerapkan manajemen irigasi di tengah ancaman kemarau kering El Nino 2026.

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Nganjuk bergerak cepat menggelar evaluasi cuaca dan analisis dinamika atmosfer. Langkah ini diambil untuk memetakan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi ancaman nyata fenomena El Nino 2026.

Agenda strategis ini sengaja digelar untuk memetakan kondisi cuaca terkini. Selain itu, BMKG juga ingin memberikan edukasi dini kepada masyarakat mengenai dampak nyata fenomena tersebut di berbagai sektor kehidupan.

"Selama Juni 2026, curah hujan di Kabupaten Nganjuk tercatat nihil. Angin dari Australia yang bersifat kering mendominasi wilayah kita sehingga hujan sangat sulit terbentuk," jelas Setiyaris, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk saat memaparkan data evaluasi cuaca bulanan, Kamis (9/7/2026).

Memasuki bulan Juli ini, suhu udara rata-rata di wilayah Nganjuk tercatat berada di kisaran 24 derajat Celsius. Sementara untuk suhu maksimumnya, kini telah menyentuh angka 30,4 derajat Celsius.

"Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan lebih kering. Curah hujan berada di bawah normal sehingga masyarakat perlu mulai melakukan langkah antisipasi sejak sekarang," ujar Setiyaris mengingatkan.

Masyarakat pun diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kecepatan angin. Kondisi ini dipengaruhi oleh sistem siklon tropis di Pasifik Barat, terutama menjelang datangnya puncak kemarau pada Agustus hingga September mendatang.

Sektor pertanian diprediksi akan menjadi bidang yang paling terpukul akibat menyusutnya ketersediaan air yang mengancam produktivitas pangan.

Tak hanya itu, El Nino juga berpotensi mengganggu sektor energi akibat turunnya debit air bendungan untuk PLTA, memicu masalah kesehatan seperti ISPA, hingga mendongkrak risiko kebakaran hutan, lahan, dan permukiman.

"Masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting adalah memahami informasi resmi dari BMKG dan melakukan langkah mitigasi sesuai kondisi yang ada," tegas Setiyaris menyikapi munculnya istilah bombastis seperti "El Nino Godzilla" di media sosial.

Menariknya, cuaca ekstrem yang kering ini tidak melulu membawa kerugian. Jika dikombinasikan dengan manajemen irigasi yang presisi, fenomena alam ini justru dapat dioptimalkan untuk mendongkrak kualitas panen komoditas unggulan lokal, salah satunya adalah bawang merah.

Sebagai langkah penutup, BMKG mengimbau keras warga Nganjuk untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih. Masyarakat juga sangat dilarang untuk membakar sampah sembarangan di tengah situasi angin kencang seperti saat ini.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru