Ribuan Warga dan Pejabat Nganjuk Menyatu dalam Sakralnya Ritual Siraman Sedudo

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Siraman Sedudo di lereng Gunung Wilis, Desa Ngliman, Sawahan, Tradisi tahunan setiap Bulan Suro ini diikuti ribuan warga yang berharap berkah kesehatan, jodoh, hingga awet muda. (Zaki/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Ribuan warga bersama jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Nganjuk memadati kawasan wisata Air Terjun Sedudo di lereng Gunung Wilis, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, pada Minggu (28/6/2026).

Kehadiran massa yang meluap hingga memadati pelataran air terjun ini tak lain untuk mengikuti prosesi ritual tahunan Siraman Sedudo, sebuah tradisi sakral yang digelar setiap menyambut Bulan Suro atau Muharram.

Tradisi ini turun-temurun dilakukan setiap Bulan Suro atau Muharram. Prosesi sakral itu dihadiri langsung oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, jajaran Forkopimda, pejabat daerah, hingga wisatawan dari berbagai kota.

Rangkaian acara dimulai tepat pukul 09.00 WIB dengan iringan alunan gamelan Jawa yang magis.

Suasana mistis sekaligus anggun kian terasa saat sepuluh gadis belia membawakan Tari Bedhayan Amek Tirta sebagai simbol rasa syukur.

Didampingi sepuluh jejaka, para perawan ini melangkah anggun mengambil air suci Sedudo menggunakan kendi kecil untuk disimpan.

"Semua keberkahan itu atas seizin dan rida Allah. Tradisi ini menjadi ikhtiar dan doa. Ada yang berharap mendapat jodoh, keturunan, kesehatan hingga awet muda, tetapi semuanya tetap dikembalikan kepada Allah SWT," ujar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, usai menjalani ritual mandi langsung di bawah guyuran air terjun tanpa menggunakan sabun maupun sampo demi menjaga kelestarian alam.

Keunikan air terjun legendaris ini terletak pada sumbernya. Kepala Disporabudpar Nganjuk, Gunawan Widagdo, menjelaskan bahwa air yang tumpah di Sedudo merupakan muara dari sembilan mata air suci di Gunung Wilis, antara lain Banyu Iber, Banyu Lawe, Banyu Cagak, Singokromo, Sadepok, Sumber Selanjar, Srigunting, Sumber Kanoman, dan mata air Sedudo sendiri.

"Filosofi sembilan sumber yang menyatu tersebut dimaknai sebagai simbol keadilan, persatuan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat," ungkap Gunawan Widagdo, menegaskan nilai sejarah dan spiritualitas tinggi yang terkandung di dalamnya.

Ritual ini tidak hanya memikat warga lokal, melainkan juga menyedot perhatian wisatawan luar daerah yang penasaran akan tuah bulan Suro di lereng Wilis.

"Suasananya sangat sakral dan menarik. Sekalian menikmati keindahan alam Sedudo dan mencari berkah di Bulan Suro," aku Sugiyanto (50), salah satu pengunjung asal Kota Kediri yang sengaja memboyong keluarganya demi menyaksikan langsung prosesi ini.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru