Di Balik Dua Pusara Desa Ngliman Sawahan

Menguak Sisi Lain Mbah Ngliman, Sang Singa Gerilya dari Lereng Wilis

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Suasana khusyuk di pusara Kiai Ageng Ngaliman di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Nganjuk. (Zaki/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Desa Ngliman di Kecamatan Sawahan, Nganjuk, tidak hanya menyimpan keindahan alam khas lereng Gunung Wilis. Di balik sejuknya udara pegunungan, desa ini menyimpan memori kolektif yang mendalam tentang sosok pelindung, penyebar agama, sekaligus pejuang tangguh bernama Kiai Ageng Ngaliman, atau yang akrab disapa Mbah Ngliman. 

Bagi masyarakat setempat, beliau bukan sekadar nama dalam dongeng masa lalu, melainkan ruh dari berdirinya desa tersebut.

"Yang di Gedong Kulon inilah berdasarkan catatan sejarah merupakan tokoh penggerak pemberontakan melawan Belanda. Jejak perjuangannya bahkan tercatat dalam sejumlah dokumen Belanda," ujar Pemerhati Sejarah Disporabudpar Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi. Minggu (28/6/2026)

Mbah Ngliman bukanlah seorang jenderal dengan pasukan berseragam, melainkan seorang guru ngaji yang kesehariannya dekat dengan masyarakat. Namun, ketika ketidakadilan mengetuk pintu-pintu rumah penduduk lereng Wilis, sang ulama memilih untuk tidak tinggal diam.

"Beliau (Mbah Ngliman) dikenal masyarakat Nganjuk sebagai Mbah Ngliman atau Kiai Ageng Ngaliman. Saat rakyat tertekan akibat tanam paksa dan pajak yang tinggi, beliau menggalang perlawanan," jelas Aries menambahkan dinamika pergerakan sang kiai.

Memasuki tahun 1830, pemerintah kolonial Belanda mulai mencekik leher rakyat lewat kebijakan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) dan tumpukan pungutan pajak yang tidak masuk akal. 

Suasana khusyuk di pusara Kiai Ageng Ngaliman di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Nganjuk. (Zaki/SRTV)

Kemarahan yang membuncah di hati rakyat kemudian menemukan wadahnya pada kepemimpinan Mbah Ngliman. 

Bersama para pengikutnya, sang kiai mengobarkan perang gerilya, memanfaatkan liukan medan Gunung Wilis yang terjal untuk memukul mundur patroli-patroli Belanda.

Sayangnya, taktik gerilya yang merepotkan ini berakhir setelah dua tahun perjuangan berdarah-darah. 

Dokumen kolonial mencatat bahwa sang kiai berhasil ditangkap pada tahun 1832 dan mengembuskan napas terakhirnya tak lama kemudian. 

Jasad sang pejuang akhirnya dibawa pulang ke tanah yang dibabatnya sendiri, meninggalkan warisan spiritual dan sejarah yang membingungkan sekaligus mengagumkan bagi generasi setelahnya berupa dua pusara keramat. Makam Gedong Wetan dan Makam Gedong Kulon.

"Keberadaan dua makam yang diyakini berkaitan dengan sosok Kiai Ageng Ngaliman masih menjadi bagian dari sejarah dan warisan budaya masyarakat Desa Ngliman," pungkas Aries.

Sampai hari ini, nama Mbah Ngliman tetap hidup, sewangi bunga-bunga yang ditaburkan para peziarah di atas batu nisannya di lereng Gunung Wilis.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru