Rahasia Panjang Umur Trah Ponco Kusumo, Wangi Kembang Tujuh Rupa dan Ritual Pengendali Diri di Bulan Suro

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Suasana khidmat kenduri dan ritual trah Ponco Kusumo di Ngronggot, wujud syukur dan ikhtiar menjaga tradisi serta keharmonisan hidup. (Mr Boni/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Aroma harum kembang tujuh rupa menyeruak di antara kepulan asap kemenyan yang tipis, membelah keheningan Dusun Bulakmiri, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Nganjuk. Rabu, (17/6/2026)

Keluarga besar trah Ponco Kusumo kembali menggelar ritual tahunan yang sakral: kenduri dan ritual netepi sasi Suro. 

Sebuah tradisi turun-temurun yang tidak sekadar menjadi seremonial kalender Jawa, melainkan sebuah laku spiritual yang dipercaya menjadi kunci rahasia keharmonisan dan umur panjang keluarga mereka.

"Dengan nguri-nguri atau netepi sasi Suro ini, kami meyakini bisa menambah kesadaran diri dan menjadi sarana pengendali diri. Kebanyakan keluarga Ponco Kusumo bisa urip langgeng (hidup abadi/sejahtera) dan awet muda," ungkap Mbah Boniman, sesepuh sekaligus pemangku Padepokan Ponco Kusumo yang kini memegang kendali trah tersebut.

Acara yang berlangsung khidmat sejak pagi hingga sore hari ini ditutup dengan tasyakuran dan ritual ngedus gaman (menyucikan pusaka). 

Di balik riuh rendahnya warga yang berkumpul, ada sebuah fakta unik yang menyelimuti trah ini. 

Garis keturunan Eyang Ponco Kusumo dikenal memiliki modalitas usia yang mengagumkan. Banyak di antara anggota keluarga terdahulu yang wafat dengan usia di atas seratus tahun.

"Sedikit menguak garis usia kami, rata-rata leluhur wafat di atas umur seratus tahun. Tapi, ini bukan sesuatu yang mutlak kami dewakan, karena kami tetap meyakini bahwa penentu umur adalah Gusti Allah," tambah Mbah Boniman dengan senyum arifnya, menegaskan bahwa ritual ini adalah bentuk ikhtiar, bukan mendahului takdir.

Bagi masyarakat sekitar, kenduri ini juga dikenal sebagai momen "ambengan" atau makan bersama. Piring-piring berisi nasi tumpeng dan lauk-pauk tradisional dikepung bersama, melarutkan sekat sosial antar warga. 

Namun secara historis, ritual ini memiliki kedekatan emosional dan tanggung jawab spiritual yang khusus dibebankan kepada mereka yang mengalir darah Ponco Kusumo di nadinya.

"Acara ini secara turun-temurun dilakukan di kalangan keluarga. Meskipun dalam pelaksanaannya melibatkan dan membawa berkah untuk seluruh warga sekitar, kegiatan ini mengharuskan kehadiran dan keterlibatan aktif setiap keturunan Ponco Kusumo," pungkasnya di sela-sela memimpin jalannya tasyakuran.

Melalui kepulan doa, suapan nasi ambengan, dan basuhan air penyuci pusaka di bulan Suro ini, trah Ponco Kusumo di Ngronggot tidak hanya sedang merawat ingatan masa lalu. Namun sedang menanam investasi spiritual untuk generasi masa depan; sebuah harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru