Malam Sakral di Anjuk Ladang

Saat Macapat Mengiringi Kesunyian Jamasan Dua Pusaka Nganjuk

Reporter : Hariadi Suwandito
Prosesi bedol pusaka dan jamasan ini merupakan ritual tahunan yang wajib dilakukan setiap kali menjelang momentum Boyong (Dito, SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Derik malam di pendopo Kabupaten Nganjuk mendadak senyap. Di dalam ruang kerja Bupati, keheningan terasa begitu pekat saat malam menjelang prosesi historis Boyong Kabupaten. 

Di bawah temaram lampu, sebuah ritual sakral dimulai. Prosesi Bedol Pusoko, pencabutan dua pusaka keramat daerah, Kyai Tunggal Wulung dan Jurang Penatas dilakukan langsung oleh pemimpin daerah, diiringi langkah khidmat Kepala Dinas Porabudpar serta para sesepuh Nayoko Projo. 

Langkah kaki tanpa alas itu bergerak pelan, membawa bobot sejarah dan spiritualitas yang mendalam bagi bumi Anjuk Ladang.

"Prosesi bedol pusaka dan jamasan ini merupakan ritual tahunan yang wajib dilakukan setiap kali menjelang momentum Boyong," ujar Kepala Dinas Porabudpar Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widhagdo, menjelaskan esensi di balik kesakralan malam itu. Sabtu (6/6/2026)

Sebelum kedua pusaka agung tersebut diarak dari Berbek menuju Pendopo KRT Sosro Kusumo sebagai simbol perpindahan pusat pemerintahan, ritual pembersihan atau jamasan harus dituntaskan terlebih dahulu. 

Prosesi bedol pusaka dan jamasan ini merupakan ritual tahunan yang wajib dilakukan setiap kali menjelang momentum Boyong (Dito, SRTV)

Di tangan para sesepuh yang telah mumpuni dan memiliki kedalaman luhur dalam merawat benda pusaka, bilah-bilah besi bersejarah itu dibersihkan dengan penuh ketelitian. 

Suasana mistis sekaligus agung kian menyergap indra ketika bait-bait lantunan macapat mulai mengalun, memecah kesunyian malam dan mengantarkan doa-doa keselamatan ke langit. 

Jamasan ini bukan sekadar merawat fisik besi tua, melainkan sebuah simbolisasi besar untuk membersihkan segala bentuk angkara murka dan marabahaya dari tanah Nganjuk.

"Ritual ini adalah bagian dari upaya spiritual kita untuk mensucikan daerah, sekaligus memohon agar bumi Anjuk Ladang selalu dijauhkan dari energi negatif dan konflik," urai Gunawan Widhagdo menambahkan.

Usai ritual jamasan kering rampung, estafet sejarah pun berlanjut. Dua pusaka yang telah suci itu kemudian diserahkan dengan penuh hormat kepada trah Kanjeng Jimat, yang merupakan keturunan langsung dari Bupati pertama Nganjuk. 

Malam itu juga, Kyai Tunggal Wulung dan Jurang Penatas dikawal ketat menuju Berbek. Di sana, pusaka-pusaka tersebut akan disemayamkan sejenak, bersiap untuk ritual puncak hari dikirab kembali dalam prosesi akbar Boyong dari Kadipaten Berbek menuju Pendopo KRT Sosro Kusumo.

Prosesi bedol pusaka dan jamasan ini merupakan ritual tahunan yang wajib dilakukan setiap kali menjelang momentum Boyong (Dito, SRTV)

“Jika sebelumnya kita bergerak dengan tema Boyong Noto Projo yang fokus pada menata pemerintahan, maka tema Boyong kali ini adalah Boyong Hambangun Projo,” ungkap Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, saat ditemui di sela-sela prosesi.

Pergeseran tema dari 'menata' menjadi 'membangun' ini membawa angin optimisme baru bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Ritual adat yang sekilas terlihat sebagai pelestarian budaya masa lalu,sejatinya adalah fondasi spiritual untuk melangkah ke masa depan. 

Pemerintah daerah berharap, pembersihan pusaka dan perpindahan simbolis ini menjadi pemantik semangat baru agar pembangunan di Kabupaten Nganjuk berjalan lebih masif, merata, dan menyentuh hajat hidup orang banyak.

"Kami berharap dengan semangat Hambangun Projo ini, pembangunan Kabupaten Nganjuk ke depan akan semakin baik, roda ekonomi bergerak cepat, dan masyarakatnya senantiasa mendapat kemudahan serta keberkahan dalam mencari rezeki," pungkas Marhaen Djumadi dengan nada optimis.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru