KEDIRI, SRTV.CO.ID – Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri menjadi rujukan praktik pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga. Lingkungan RT 02 RW 03 dinilai berhasil menerapkan inovasi tata kelola sampah dan lingkungan hidup melalui kegiatan Zero Waste Academy yang diikuti peserta dari 10 kota di Pulau Jawa selama empat hari.
Program ini mengedepankan pembelajaran langsung lewat praktik lapangan, diskusi, serta simulasi pengelolaan sampah berkelanjutan. Kegiatan dihadiri Camat Mojoroto Abdul Rahman, Lurah Mrican Johan Firdaus, tokoh lingkungan, serta relawan mahasiswa Universitas Nusantara PGRI (UNP).
Lurah Mrican Johan Firdaus mengatakan, terpilihnya wilayahnya sebagai lokasi pembelajaran menjadi bentuk kepercayaan sekaligus tantangan untuk terus berinovasi.
“Kelurahan Mrican terbuka untuk dilihat, dipelajari, bahkan dikritisi. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan memantik inovasi baru,” ujarnya, Sabtu (31/1/2026).
Ketua RT 02 RW 03 Sujarno menjelaskan, berbagai terobosan lingkungan di wilayah Pringgondani lahir dari semangat kebersamaan warga dengan visi menciptakan lingkungan bersih, sehat, aman, dan harmonis melalui partisipasi aktif masyarakat.
Berkat pendekatan tersebut, RT 02 RW 03 meraih Juara I Lingkungan Terbaik tingkat Kota Kediri. Selain pengelolaan lingkungan, wilayah ini juga mengembangkan digitalisasi administrasi warga, mulai dari pendataan kependudukan, kos-kosan, hingga penyimpanan dokumen penting secara daring.
“Inovasi ini muncul dari kebutuhan. Mengelola warga yang beragam perlu empati dan keteladanan. Dari situ tumbuh kesadaran bersama,” jelas Sujarno.
Di sektor lingkungan, penerapan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan pengelolaan bank kompos mampu menekan volume sampah rumah tangga hingga sekitar 35 persen dalam setahun. Capaian itu membawa wilayah tersebut masuk nominasi berbagai lomba lingkungan hidup tingkat kota hingga provinsi.
Camat Mojoroto Abdul Rahman mengapresiasi kekompakan warga Mrican yang dinilai mampu membuktikan perubahan dapat dimulai dari lingkup terkecil.
“Kolaborasi warga, RT, kelurahan, dan pendamping menghasilkan dampak nyata. Mrican layak menjadi rujukan pengelolaan lingkungan,” tegasnya.
Mahasiswa UNP yang menjalani KKN di Mrican, Vanda, mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari pola pendampingan warga yang diterapkan.
“Keunggulan Mrican ada pada keterlibatan warganya sejak awal. Bukan sekadar bersih, tapi membangun kesadaran kolektif,” tuturnya.
Zero Waste Academy di Kelurahan Mrican ditutup dengan optimisme bahwa inovasi berbasis warga tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat tata kelola sosial di tingkat komunitas.***
Reporter : Agus Sulistyo
Editor : AMS
