KEDIRI, SRTV.CO.ID — Di usia senja, Suwari justru mencapai puncak pengabdiannya di dunia seni. Seniman berusia 75 tahun yang akrab disapa Mbah Wari ini dikenal sebagai pelaku seni ludruk yang tergabung dalam grup Ludruk Macan Baru Jombang. Namun, kiprahnya tidak hanya terbatas di atas panggung. Di balik itu, Mbah Suwari juga menekuni seni pahat dan lukis dengan produktivitas yang tak kalah mengagumkan.
Sejumlah karya patung dan lukisan hasil tangan Mbah Suwari telah tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Kediri. Dari sekian banyak karyanya, patung Macan Putih yang berdiri di pertigaan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, menjadi karya paling menonjol. Patung tersebut kini menjelma sebagai ikon desa sekaligus magnet wisata baru yang menarik kunjungan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
Ide pembuatan patung itu bermula dari percakapan sederhana. Saat menikmati kopi pagi di sebuah warung dekat lapangan Desa Balongjeruk, Mbah Suwari didatangi Kepala Desa Balongjeruk, Syafi’i. Dalam pertemuan singkat tersebut, Syafi’i meminta Mbah Suwari membuat patung macan putih. Tanpa banyak pertimbangan, permintaan itu langsung disanggupi.
“Saya tidak punya firasat apa-apa. Waktu itu hanya diminta membuat patung macan putih, ya saya sanggupi,” ujar Mbah Suwari mengenang awal proses kreatifnya.
Pengerjaan patung dimulai pada 2 Desember 2025 dan berlangsung selama 18 hari. Seluruh proses dikerjakan Mbah Suwari seorang diri tanpa bantuan asisten. Material seperti pasir, semen, dan perlengkapan kerja disediakan oleh Pemerintah Desa Balongjeruk. Awalnya, ia membayangkan sosok macan putih yang tampil garang dan berwibawa. Namun, seiring proses berjalan, bentuk patung justru berkembang menjadi figur macan putih yang tampak gemuk, lucu, dan menggemaskan.
Tanpa diduga, setelah patung tersebut dipublikasikan, respons masyarakat begitu besar. Patung Macan Putih Balongjeruk viral di media sosial dan mengundang gelombang pengunjung yang datang sejak pagi hingga malam hari untuk sekadar berfoto atau melihat langsung karya tersebut.
“Saya juga tidak menyangka dampaknya sebesar ini. Capek tentu, tapi senang karena jadi banyak saudara dan teman baru,” ungkapnya.
Kehadiran patung tersebut turut membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. Aktivitas wisata yang meningkat membuka peluang usaha baru, mulai dari pedagang makanan dan minuman hingga penjualan cendera mata dan mainan anak bergambar Macan Putih serta figur Mbah Suwari.
Pengakuan terhadap karya Mbah Suwari semakin lengkap setelah patung Macan Putih resmi memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada pekan ini.
Di usia yang tak lagi muda, Mbah Suwari membuktikan bahwa kreativitas tidak dibatasi oleh waktu. Dari tangan sederhananya, lahir sebuah karya seni yang bukan hanya menjadi kebanggaan Desa Balongjeruk, tetapi juga dikenal hingga ke berbagai penjuru negeri.*
Reporter: Bakti Wijayanto
Editor: AMS
