Berita  

Di Tengah Gempuran Mesin Modern, Penggilingan Kopi Tradisional Wonosalam Tetap Hidup

Pengelola penggilingan kopi tradisional, Muhammad Dian Nur Wahid, menjalankan proses produksi kopi secara manual di Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. (ist)

JOMBANG, SRTV.CO.ID — Di tengah gempuran modernisasi industri pengolahan kopi, cara tradisional masih bertahan di lereng Gunung Anjasmoro. Di Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, sebuah penggilingan kopi manual tetap beroperasi dengan mempertahankan metode lama yang diwariskan turun-temurun.

Penggilingan kopi tersebut dikelola Muhammad Dian Nur Wahid (25), generasi kedua yang meneruskan usaha keluarga sejak awal 2000-an. Di saat banyak pelaku usaha beralih ke mesin modern, Dian memilih bertahan dengan pengolahan manual yang menurutnya memiliki karakter rasa tersendiri.

“Usaha ini sudah ada sejak tahun 2000-an. Saya hanya melanjutkan dari orang tua,” kata Dian, Senin (19/1/2026).

Seluruh proses produksi dilakukan secara manual, mulai dari pemilihan biji kopi mentah berkualitas, pengeringan alami, hingga proses sangrai yang memakan waktu sekitar satu jam. Setelah itu, kopi didinginkan, disortir ulang, lalu digiling menjadi bubuk.

“Setelah disangrai, kopi harus didinginkan dulu, baru disortir dan digiling,” jelasnya.

Bubuk kopi kemudian dikemas dalam berbagai ukuran, mulai dari 100 gram hingga 250 gram, sebelum dipasarkan ke konsumen.

Menurut Dian, metode tradisional justru menjadi keunggulan utama usahanya. Selain biaya produksi yang lebih hemat, aroma kopi yang dihasilkan dinilai lebih kuat dan khas dibandingkan hasil mesin modern.

“Biayanya lebih irit, dan aroma kopinya beda,” ujarnya.

Meski demikian, proses manual menuntut tenaga dan ketelatenan ekstra karena seluruh tahapan dikerjakan secara fisik. Peralatan penggilingan yang digunakan pun merupakan rakitan mandiri.

Dalam kondisi optimal, kapasitas produksi mencapai 20 kilogram per hari. Namun, rata-rata penjualan berada di kisaran 2 kilogram per hari. Dengan harga jual Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram, omzet usaha ini mencapai sekitar Rp6 juta per bulan.

Produk kopi bermerek Nyoto Roso ini mengandalkan kopi ekselsa khas Wonosalam sebagai varian unggulan. Selain itu, tersedia pula kopi arabika, robusta, serta campuran robusta.

Harga kopi ekselsa dipatok Rp35 ribu per kemasan 250 gram atau Rp140 ribu per kilogram. Sementara robusta campuran dijual Rp25 ribu per 250 gram dan Rp15 ribu untuk kemasan 100 gram.

Pemasaran kopi Nyoto Roso tak hanya menjangkau Jombang, tetapi juga daerah sekitar seperti Blitar, Tulungagung, dan Kediri.

“Harapannya ke depan usaha ini bisa terus berkembang,” pungkas Dian.

Salah satu pelanggan setia, Rendar Putra (26), mengaku rutin mengonsumsi kopi ekselsa Wonosalam bersama keluarganya.

“Saya minum setiap hari. Rasanya unik, ini bentuk kecintaan saya pada produk asli Jombang,” tuturnya.

Menurut Rendar, kopi tersebut juga kerap disajikan untuk menjamu tamu karena cita rasanya yang khas dengan harga yang masih terjangkau.

“Harganya ramah di kantong, tapi rasanya beda,” tambahnya.

Di tengah arus modernisasi industri kopi, keberadaan penggilingan kopi tradisional di Wonosalam menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih mampu bertahan dan menawarkan karakter rasa yang tak tergantikan.*

Reporter : Agung Pamungkas
Editor : AMS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *