Nyambung Beleh, Kakan Kemenag Jatim Sambung Nasab dan Tradisi Ilmu di IBS PKMKK

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kunjungan kerja Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, ke Yayasan Kyai Mudrikah Kembang Kuning yang kini dikenal sebagai IBS PKMKK, bukan sekadar agenda dinas biasa. Momentum ini sarat makna kultural dan spiritual sebagai wujud tradisi “Nyambung Beleh” atau menyambung tali persaudaraan serta nasab yang telah lama terjalin.

“Peristiwa ini merupakan rekonstruksi memori kolektif, peneguhan identitas kultural, serta penguatan jaringan genealogis pesantren yang menjadi fondasi peradaban Islam Nusantara, khususnya di wilayah Madura dan Tapal Kuda,” ujarnya.

Dalam diskusi intens yang berlangsung sekitar tiga jam, tema silsilah atau nasab menjadi pusat percakapan hangat. Bukan sekadar urutan nama dalam garis keturunan, nasab dipahami sebagai struktur makna yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan otoritas moral. Penyebutan nama-nama besar leluhur seperti Bujuk Ismail Kembang Kuning, Bujuk Ajunan Sentol, hingga Bujuk Bujuden Pamoroh, membuktikan bahwa pesantren adalah mata rantai panjang perjuangan dakwah yang tak terputus.

Peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi. Kehadiran pejabat negara di ruang pesantren yang kemudian menemukan keterkaitan kekerabatan, membuktikan bahwa birokrasi dan nilai-nilai luhur bisa saling menguatkan. Negara hadir bukan sebagai entitas yang asing, melainkan bagian dari jaringan sosial dan spiritual masyarakat.

“Nasab bukan hanya silsilah biologis, melainkan jalur transmisi ilmu dan barakah. Ketika nasab ditemukan saling bersambung, yang dirasakan bukan hanya kedekatan historis, tetapi juga kedekatan ruhani,” tegasnya.

Lebih dalam lagi, tradisi ini mengajarkan bahwa ilmu tidak berdiri sendiri, melainkan mengalir melalui hubungan manusia yang penuh adab. Hubungan formal antara negara dan pesantren menemukan makna mendalam ketika bertemu dengan kesadaran persaudaraan dan kemanusiaan.

“Ilmu tidak berdiri sendiri, ia mengalir melalui hubungan manusia yang penuh adab. Hubungan formal negara dan pesantren menemukan kedalaman maknanya ketika bertemu dengan kesadaran kekerabatan,” tambahnya.

Secara filosofis, “Nyambung Beleh” menjadi metafora kuat tentang kesinambungan. Masa depan pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya. Dengan merawat tradisi dan menyadari keterhubungan tersebut, pesantren mendapatkan energi moral untuk terus berkembang sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

“Kekuatan pendidikan Islam Nusantara terletak pada kemampuannya merawat tradisi sambil menatap masa depan,” pungkasnya.

Reporter : Inna Dewi Fatimah

Editor     : Tim Redaksi SRTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *