Kemarau Panjang, Warga Plandaan Jombang Terpaksa Gali Sungai Demi Air Bersih

Warga terpaksa menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan air bersih guna kebutuhan mencuci baju, akibat kemarau panjang yang menyebabkan sumur mengering di Dusun Brangkal, Desa Jipurapah, Plan
Warga terpaksa menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan air bersih guna kebutuhan mencuci baju, akibat kemarau panjang yang menyebabkan sumur mengering di Dusun Brangkal, Desa Jipurapah, Plan

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Sumur warga di Dusun Brangkal Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Jombang, mengering sejak Agustus. Warga terpaksa harus menggali lubang di dasar sungai untuk mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang, Minggu (25/10/2026).

Bagi warga Dusun Brangkal, persoalan air bersih sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Namun, situasinya semakin sulit ketika sumur yang selama ini menjadi sumber utama air mulai tidak lagi mengeluarkan air dan sungai di sekitar permukiman pun mengalami kondisi serupa.

Suko (57), warga Dusun Brangkal mengatakan bahwa kesulitan air mulai dirasakan sejak Agustus. Memasuki penghujung Oktober, warga semakin kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga.

"Kalau sekarang sumur sudah tidak bisa keluar airnya. Sungai di sebelah barat juga tidak ada airnya," ungkap Suko saat mengambil air.

Warga juga harus menggali lubang kecil di dasar sungai untuk memperoleh air yang kemudian digunakan terutama untuk mandi dan mencuci.

Sementara itu, kebutuhan air minum dipenuhi dari sumber lain yang masih tersedia. Sebagian warga memilih membeli air isi ulang agar kebutuhan konsumsi keluarga tetap terpenuhi.

"Kalau bisa, bantuan air dikirim terus sampai musim hujan. Ini baru pertama kali ada kiriman," harap Suko.

Sementara itu, Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, menyampaikan bahwa warga telah mengalami kesulitan air bersih selama kurang lebih satu bulan terakhir. Kondisi paling parah dirasakan masyarakat di wilayah RT 1, kemudian disusul warga RT 2 dan RT 4.

"Kalau biasanya kemarau panjang, warga masih mengandalkan sumur bor di rumah masing-masing. Sekarang airnya mulai sulit, jadi warga mengambil air ke sungai," jelas Suwoto.

Kondisi itu membuat distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat setempat, terutama selama musim kemarau belum berakhir.

Hal ini langsung dijawab oleh Supervisor Pusdalops BPBD Jombang, Stevy Maria dengan menjelaskan bahwa bantuan air bersih untuk wilayah Desa Jipurapah disalurkan secara berkala setiap dua hari sekali, kemudian setiap penyaluran, masing-masing dusun memperoleh dua tangki air.

"Setiap dusun mendapat dua tangki, masing-masing 5.000 liter. Jadi, totalnya 10.000 liter per dusun dalam sekali penyaluran," tandas Pepy sapaan akrabnya.

Berdasarkan pendataan BPBD Jombang, dampak kekurangan air bersih di Desa Jipurapah meliputi dua dusun. Dusun Jipurapah tercatat memiliki 200 kepala keluarga atau 540 jiwa yang terdampak.

Sementara itu, di Dusun Brangkal terdapat 200 kepala keluarga atau 600 jiwa. Dengan demikian, jumlah warga terdampak di kedua dusun tersebut mencapai 400 kepala keluarga atau 1.140 jiwa.

"Sumur yang mengering, sungai yang kehilangan aliran air, serta fasilitas Pamsimas yang belum bisa dimanfaatkan membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penanganan yang dibutuhkan masyarakat selama musim kemarau," tungkas pepy.

Editor : SRTVRedaksi