JOMBANG, SRTV.CO.ID — Gelak tawa dan sorak antusias penonton membahana di tengah Lapangan Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU), Rejoso, Kecamatan Peterongan, Jombang, Selasa (20/10/2026) malam.
Para santri berlari tanpa alas kaki mengejar bola dari kelapa kering yang dibakar dan membara, menyajikan atraksi sepak bola api dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2026.
Pertandingan ini menarik perhatian luas warga sekitar dan jamaah pesantren. Menurut Ketua Panitia Peringatan Hari Santri PCNU Kabupaten Jombang, Hadi Saifuddin
"Tradisi sepak bola api tidak hanya menampilkan atraksi yang mengundang perhatian masyarakat, tetapi juga membawa pesan moral dan spiritual yang erat dengan kehidupan santri." Ujarnya
Tampil bertelanjang kaki di atas lapangan, para peserta dituntut bergerak cepat, saling mengoper, hingga mencetak gol di tengah kobaran api.
Suasana kian membara saat bola meluncur deras ke arah penjaga gawang yang harus sigap menepis kobaran api agar tidak panas ketika dipegang atau dilempar kembali.
Ajang ini dipusatkan di lingkungan pesantren sebagai sarana syiar keagamaan. Hadi Saifuddin menjelaskan
"Sepak bola api mengajarkan pentingnya ketawakalan, ketaatan, sportivitas, serta kebersamaan. Tradisi itu sekaligus menjadi salah satu sarana syiar keagamaan yang berkembang di lingkungan pesantren." Tuturnya
Bagi para santri yang bertanding seperti Mukhlis dan Andri, laga ini menjadi ujian ketangkasan fisik sekaligus mental. Rasa deg-degan dan takut terbukti hilang saat fokus dan kebersamaan tim terbentuk di atas lapangan.
Mengenai makna di balik bola yang membara tersebut, Hadi Saifuddin menegaskan filosofi utamanya. "
Bola api ini diibaratkan sebagai hawa nafsu manusia. Hawa nafsu itu harus dijinakkan dan dikendalikan, bukan dibiarkan membakar diri sendiri," jelas Hadi.
Atraksi unik ini dimainkan oleh lima pemain di setiap tim dengan durasi 2 x 10 menit. Selama pertandingan berlangsung, peserta harus mampu menjaga konsentrasi, kekompakan, serta stamina di tengah sengatan hawa panas bola api.
Melanjutkan pesannya, Hadi Saifuddin menuturkan pentingnya penguasaan diri dalam kehidupan sehari-hari.
"Manusia perlu memiliki kemampuan mengendalikan keinginan dan dorongan dalam dirinya. Keberanian dalam permainan juga harus diimbangi dengan ketenangan, kedisiplinan, dan kesadaran terhadap tujuan bersama," terangnya.
Meski menjadi kekayaan budaya pesantren yang mempererat kebersamaan antarsantri, penggunaan bola yang dibakar tetap memiliki risiko cedera dan luka bakar. Oleh sebab itu, panitia menyiagakan pengawasan dan persiapan keselamatan secara ketat.
Hadi Saifuddin kembali menegaskan pesan moral dari permainan tradisi ini. "Bola api ini diibaratkan sebagai hawa nafsu manusia. Hawa nafsu itu harus dijinakkan dan dikendalikan," pungkasnya.
Editor : SRTVRedaksi