Kian 'Mencekik', Harga Cabai di Surabaya Ugal-ugalan, Emak-Emak dan Pemilik Warung Menjerit

Pedagang Pasar Wonokromo, Tomi, memilah dan merapikan stok cabai rawit yang harganya mengalami lonjakan drastis hingga mencapai Rp 60.000 per kilogram di Surabaya (Saha/SRTV)
Pedagang Pasar Wonokromo, Tomi, memilah dan merapikan stok cabai rawit yang harganya mengalami lonjakan drastis hingga mencapai Rp 60.000 per kilogram di Surabaya (Saha/SRTV)

SURABAYA, SRTV.CO.ID - Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok mulai mengikis daya beli masyarakat di Kota Surabaya. Dalam sebulan terakhir, lonjakan harga berbagai komoditas pangan seperti cabai dan sayuran memaksa warga memutar otak demi menghemat pengeluaran rumah tangga.

"Cabe rawit pasti naik setiap hari. Naik turunnya drastis cabe kecil, sebelumnya bisa lima puluh dan besok enam puluh, besok lagi bisa lima-lima kadang itu, tiap hari beda," ujar Tomi, seorang pedagang di Pasar Wonokromo. Senin (19/10/2026)

Pantauan di Pasar Wonokromo menunjukkan aktivitas jual beli tetap berjalan meski diiringi keluhan. Harga cabai rawit yang kini menyentuh angka Rp 60.000 per kilogram menjadi sorotan utama, disusul kenaikan harga cabai besar yang mencapai Rp 46.000 per kilogram.

"Ya susah mas. Pendapatannya tetap tapi sembako naik naik terus jadi yang biasanya kita belanja seratus ribu bisa dapat dua item jadi berkurang. Yang penting sembako bisa turun lagi, terjangkaulah," keluh Uswatun, warga asal Wonokromo yang ditemui saat berbelanja.

Kondisi serba sulit ini tidak hanya memukul konsumen rumah tangga, tetapi juga menyasar para pelaku usaha mikro seperti pemilik warung makan. Perubahan harga pasokan yang fluktuatif membuat margin keuntungan makin menipis.

"Tambah susah gak kayak yang dulu, jualan lho buat beli lagi tidak bisa sekarang itu. Jadi ya muter saja, kadang min. Daya belinya juga berkurang, jauh banget pokoknya jauh banget," ungkap Windayati, pemilik warung nasi di kawasan Jemursari.

Para pedagang dan masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga pasokan pangan dari daerah penghasil agar beban ekonomi warga tidak semakin berat.

Editor : SRTVRedaksi