NGANJUK, SRTV.CO.ID – Di tengah gempuran perubahan iklim global yang membuat cuaca kian dinamis, sistem penanggalan tradisional Jawa atau Pranata Mangsa kerap kali dipertanyakan keakuratannya.
Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, membagikan pandangannya mengenai bagaimana kearifan lokal warisan leluhur ini bersanding dengan teknologi meteorologi modern saat ini.
"Pranata itu aturan, mongso itu musim atau waktu. Jadi pranata mongso dapat diartikan sebagai aturan atau pembagian waktu berdasarkan siklus musim yang digunakan sebagai pedoman oleh masyarakat Jawa tempo dulu," ungkap Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris. Kamis (15/10/2026)
Sistem tradisional ini dibangun melalui pengamatan mendalam (ilmu titen) selama berpuluh-puluh tahun hingga berabad-abad terhadap fenomena alam.
Parameter yang diamati meliputi pola hujan, arah angin, kondisi tanah, pertumbuhan tanaman, hingga perilaku spesifik dari hewan.
"Jadi memang yang paling umum di masyarakat itu perilaku dari hewan itu sangat diamati. Seperti misalkan kalau ada semut berpindah berbondong-bondong ke tempat yang lebih tinggi atau masuk ke dalam rumah sambil membawa telur, dulu itu mengindikasikan akan turun hujan deras atau berpotensi wilayah tersebut akan banjir," jelasnya.
Sistem penanggalan yang dipatenkan sejak zaman Kerajaan Mataram oleh Sultan Agung ini membagi siklus tahunan menjadi 12 mangsa.
Siklus tersebut dikelompokkan ke dalam empat periode utama, yaitu Mangsa Terang, Mangsa Semplah, Mangsa Udan, dan Mangsa Pengarep-arep.
"Dalam konteks perubahan iklim saat ini, Pranata Mangsa tetap bernilai sebagai warisan pengetahuan lokal. Namun tanda-tanda alam yang dulu digunakan untuk memperkirakan suatu musim ini tidak selalu muncul pada saat ini seperti pada masa lalu," tutur Setiyaris terkait adaptasi kearifan lokal di era modern.
Meningkatnya fenomena global seperti El Nino atau Indian Ocean Dipole (IOD) kerap membuat awal musim bergeser maju atau mundur dari perhitungan tradisional.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk memadukan kearifan lokal Pranata Mangsa dengan informasi cuaca dan iklim mutakhir dari BMKG.
"Saat ini dalam Pranata Mangsa dikategorikan sebagai 'mangsa kelima' yang digambarkan dengan candra 'Pancuran Mas Sumawur Ing Jagad', artinya hujan sudah mulai turun membasahi bumi. Kondisi ini rupa-rupanya sejalan dengan prediksi ilmiah BMKG bahwa wilayah Kabupaten Nganjuk sedang memasuki masa pancaroba," pungkasi Setiyaris.
Editor : SRTVRedaksi