Heroik hingga Detik Terakhir, Mualim II Asal Jombang Bagikan Pelampung Sebelum KM Virgo Transport 8 Karam

Suasana haru dan tangis histeris pecah menyelimuti keluarga korban di Desa Bulurejo, Diwek, Jombang, saat jenazah diberangkatkan menuju TPU desa setempat (Saha/SRTV)
Suasana haru dan tangis histeris pecah menyelimuti keluarga korban di Desa Bulurejo, Diwek, Jombang, saat jenazah diberangkatkan menuju TPU desa setempat (Saha/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Jenazah Gondham Prakoso, Mualim II korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 asal Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, akhirnya dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat pada Kamis (1/10/2026).

Gondham ditemukan dan diidentifikasi petugas Basarnas di kawasan Pantai Soreang, Sampit, Kalimantan Tengah, setelah menjalani pencarian marathon selama 18 hari.

"Dia menghubungi rumah keluarga. Cuma bilang, 'Kapal saya tenggelam'. Setelah itu kami menunggu sampai hari ke-18," ucap Zulkarnain Sutopo, paman Gondham, saat ditemui di rumah duka, Kamis (1/10/2026).

Kepastian identitas almarhum membuat pihak keluarga langsung menjemput jenazah yang diterbangkan dari Banjarmasin menuju Bandara Juanda, Surabaya.

Meskipun ambulans yang membawanya sempat mengalami insiden kecelakaan di jalan, jenazah akhirnya tiba di rumah duka sekitar pukul 09.40 WIB berkat bantuan armada BPBD Jombang untuk dishalatkan dan diantarkan ke peristirahatan terakhir.

"Alhamdulillah, kemarin Rabu (30/9/2026) kami mendapat informasi dari Basarnas kalau sudah teridentifikasi, yaitu Gondham Prakoso. Tadi pagi kami jemput di Bandara Juanda, kemudian dibawa ke rumah duka dan dimakamkan," paparnya.

Aksi heroik almarhum terungkap sebelum kapal benar-benar karam. Sebagai Mualim II, Gondham bersama empat awak kapal lainnya termasuk Kapten dan Kepala Kamar Mesin memilih bertahan hingga detik terakhir untuk menuntaskan tugas membagikan pelampung serta menghembuskan liferaft guna menyelamatkan penumpang dan awak lainnya.

"Kelima orang ini paling terakhir keluar. Sebelumnya mereka melaksanakan tugas membagikan pelampung dan mengembangkan liferaft," jelas Zulkarnain merincikan kesaksian yang diterimanya dari Kapten Kapal.

Di tengah gempuran gelombang tinggi malam itu, kelima awak yang melompat paling akhir terpecah menjadi dua kelompok. Gondham yang terpisah bersama seorang awak lainnya akhirnya hilang kontak di tengah lautan luas hingga jasadnya ditemukan ribuan kilometer dari lokasi awal kejadian.

"Karena malam dan terkena ombak, mereka akhirnya terpisah. Setelah itu kami tidak tahu bagaimana kondisinya," imbuh Zulkarnain menahan duka.

Kepergian Gondham menyisakan duka mendalam bagi istri dan seorang putra kecilnya yang masih berusia empat tahun. Padahal, pelaut tangguh yang merintis karier dari juru mudi ini tengah bersiap melanjutkan pendidikan sertifikasi Ahli Nautika Tingkat II (ANT II) demi menunjang masa depannya.

"Saya ingin mendidik anak ini supaya tidak hanya mengandalkan ijazah. Dia saya jadikan juru mudi dulu, belajar dari bawah, sampai akhirnya menjadi mualim dua. Kami keluarga Gondham Prakoso mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada instansi terkait dan siapa pun yang sudah bekerja keras membantu mencari korban Virgo. Dan mudah-mudahan almarhum menjadi husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT," pungkas Zulkarnain.

Editor : SRTVRedaksi