NGANJUK, SRTV.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Nganjuk kembali menggelar tradisi agung Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo tahun 2026 pada Sabtu (6/6/2026).
Bagi masyarakat setempat, prosesi ini bukan sekadar seremonial tahunan atau peringatan perpindahan pusat pemerintahan semata.
Lebih dari itu, di balik setiap rangkaian acaranya tersimpan nilai-nilai luhur sejarah, persatuan, dan semangat membangun yang menjadi fondasi utama bumi Anjuk Ladang.
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi atau akrab disapa Kang Marhaen, menegaskan makna mendalam dari kegiatan ini.
Menurutnya, ini adalah momen krusial untuk mengenang kembali jejak sejarah perjalanan panjang pemerintahan Nganjuk yang dimulai sejak puluhan tahun silam.
"Tatkala Adipati Sosrokoesoemo ke-3 memimpin, beliau punya inisiatif besar, ketika itu ibu kota pemerintahan masih bertempat di Berbek, jangkauannya agak jauh dari pusat keramaian dan akses masyarakat. Maka akhirnya diputuskanlah untuk memindahkan Kadipaten Nganjuk ke lokasi yang sekarang kita kenal," ungkap Kang Marhaen menjelaskan sejarah berdirinya pusat pemerintahan saat ini, yang berawal dari kebijakan besar pada 6 Juni 1880 silam.
Namun, makna Hambangun Projo tidak berhenti hanya pada sejarah perpindahan wilayah. Kang Marhaen menekankan bahwa inti dari tradisi ini adalah nilai gotong royong, kebersamaan, dan kolaborasi.
Semangat inilah yang harus terus dipelihara oleh seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah dalam upaya memajukan dan membangun daerah.
Rangkaian kegiatan akbar ini sebenarnya sudah dimulai sejak Jumat malam (5/6/2026) dengan prosesi sakral Bedol Pusaka.
Dalam ritual penuh doa dan penghormatan itu, dua benda pusaka keramat milik daerah, yakni Payung Kiai Tunggul Wulung dan Tombak Kiai Baru Klinting atau yang dikenal juga sebagai Jurang Penatas, menjalani prosesi jamasan atau pembersihan dan penyucian.
Setelah itu, kedua pusaka tersebut dibawa kembali ke Berbek untuk kemudian diarak secara khidmat menuju Pendopo KRT Sosrokoesoemo pada hari puncak acara.
"Tadi malam sudah kita lakukan rangkaian prosesi awal, yaitu jamasan dan bedol pusaka. Kita mandikan dan kita sucikan dua pusaka utama Kabupaten Nganjuk. Satu bernama Payung Kiai Tunggul Wulung, simbol perlindungan, dan satu lagi Tombak Kiai Baru Klinting atau Jurang Penatas, simbol kekuatan dan ketegasan," jelas Kang Marhaen merinci setiap tahapan yang dilalui.
Bagi Kang Marhaen, keberadaan pusaka dan prosesi adat ini bukan sekadar benda mati atau tontonan mistis. Ia melihatnya sebagai simbol dari tujuan besar kegiatan ini: menyatukan kekuatan untuk membangun.
"Itulah rangkaian utuh dari prosesi Boyong dan Sedekah Bumi Hambangun Projo. Maknanya yang terpenting dan paling dalam adalah bagaimana kita membangun pemerintahan dan daerah ini dengan cara sinergi serta kolaborasi menyeluruh. Tidak ada yang berjalan sendiri, semuanya harus bergerak seirama," tegasnya.
Kang Marhaen mengajak seluruh elemen, mulai dari jajaran birokrasi, tokoh masyarakat, hingga warga biasa, untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai kebersamaan yang tercermin dalam tradisi ini.
Menurutnya, hanya dengan persatuan dan semangat gotong royong, cita-cita mewujudkan pembangunan Kabupaten Nganjuk yang lebih maju, adil, dan sejahtera dapat tercapai.
Editor : SRTVRedaksi