NGANJUK, SRTV.CO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menyehatkan di SDN Mojokendil, Ngronggot, Nganjuk, justru berujung kepanikan pada Selasa (7/4/2026). Sejumlah siswa, khususnya kelas 5, mengalami gangguan kesehatan seperti mual dan muntah setelah menyantap menu yang diduga tidak layak. Satu siswa bahkan harus dilarikan ke Puskesmas Ngronggot.
“Tolong kalau kalau pas ada Sampel, nanti tolong disimpan dimasukkan kulkas,” ujar dr. Arief Subiyanto, Kepala Puskesmas Ngronggot, saat dikonfirmasi wartawan, menginstruksikan pengamanan sampel makanan dan muntahan.
Insiden bermula saat paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot, didistribusikan ke kelas. Namun, saat dilakukan pengecekan oleh petugas sekolah, ditemukan kondisi sayur yang sudah tidak memenuhi syarat konsumsi, yaitu berlendir dan tidak segar.

“Yang jelas ada satu anak tadi yang dibawa ke Puskesmas Mojokendil karena mengalami mual, muntah, dan lemas,” ujar Hendri Dwi Prastya, Operator Sekolah SDN Mojokendil.
Meskipun distribusi segera dihentikan, sebagian siswa kelas 5 terlanjur menyantap hidangan tersebut. Akibatnya, satu siswa dilarikan ke Puskesmas Ngronggot setelah mengalami mual, muntah, dan lemas. Kondisinya kini dilaporkan sudah membaik dan telah dipulangkan.
“Nggak apa-apa kalau kondisi korban katanya sudah pulang tadi dari Puskesmas. Cuma yang lain saya ndak tahu, sudah masuk ke Puskesmas apa belum,” jelas dr. Arief, yang belum bisa memastikan kondisi siswa lain yang mungkin juga terdampak.
Pihak Puskesmas sangat berhati-hati dalam menangani kasus ini. Pentingnya pengamanan sampel makanan dan muntahan ditekankan untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan.

“Nanti disimpan, soalnya kalau ada apa-apa nanti biar untuk pemeriksaan laboratorium, nggih (ya,red),” tambahnya, menandakan bahwa proses investigasi sedang berjalan.
Meskipun demikian, dr. Arief Subiyanto tidak dapat memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai indikasi langsung penyebab keracunan, mengingat ia belum melakukan pemeriksaan langsung.
“Waduh, saya ndak bisa jawab, saya ndak periksa,” tegasnya.
Kasus ini menjadi peringatan keras akan pentingnya pengawasan kualitas makanan dalam program-program bantuan, terutama bagi anak-anak. Pihak berwenang diharapkan dapat segera mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium untuk memberikan kejelasan mengenai insiden ini dan mencegah kejadian serupa terulang.
Reporter : Boniman
Editor : M Bima Putra













