JOMBANG, SRTV.CO.ID – Gejolak harga bahan baku plastik yang melambung tinggi belakangan ini menjadi perhatian serius. Kenaikan harga yang drastis ini diduga kuat dipengaruhi oleh situasi global, khususnya konflik yang terjadi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dampaknya sangat terasa hingga ke tingkat pelaku usaha kecil, termasuk para perajin dan penjual plastik di Kabupaten Jombang.
"Kenaikannya sangat tajam, bisa mencapai dua kali lipat dari harga normal sebelumnya. Padahal bahan baku ini adalah nyawa bagi usaha kami," ujar Barokatul Mustagfiroh, atau yang akrab disapa Fifi, perajin sablon sekaligus penjual plastik di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto.
Fifi menjelaskan, sebelumnya ia bisa menjual 2 hingga 3 karung plastik setiap harinya. Namun, sejak harga melonjak seminggu terakhir, omzet penjualan anjlok drastis menjadi hanya satu karung per hari. Atau anjlok 50 persen. Banyak konsumen yang mengurangi jumlah pembelian atau bahkan urung membeli karena kaget dengan harga baru.
"Dulu harganya sekitar Rp 32.000 per kilogram, sekarang langsung naik jadi Rp 47.000. Selisihnya Rp 15.000 per kg, padahal satu karung bisa berisi 25 kg. Ini beban berat bagi kami yang produksi ribuan plastik setiap hari," jelasnya.
Akibat kenaikan harga yang tidak wajar ini, stok barang di tempat usahanya menumpuk dan tidak laku terjual. Fifi khawatir jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kelangsungan usahanya akan semakin sulit berjalan lancar.
"Kami sangat berharap pemerintah bisa segera menindaklanjuti dan mencari solusi agar harga bahan pokok seperti ini bisa kembali normal dan terjangkau lagi oleh masyarakat," pungkasnya.
Editor : SRTVRedaksi