Menggali Jejak Literasi Kuno, Generasi Muda Belajar Bikin Daluang dan Menggurat Lontar di MINHA Tebuireng Jombang

Reporter : Taufiqur Rachman
Narasumber memandu peserta Workshop Pembuatan Media Tulis Daluang dan Menggurat di Media Lontar di MINHA Tebuireng, Diwek, Jombang. (Saha/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID — Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MINHA) di Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, menjadi saksi antusiasme peserta dalam mengenal kembali tradisi tulis leluhur Nusantara. Selama dua hari, Rabu (30/9/2026) hingga Kamis (1/10/2026), digelar Workshop Pembuatan Media Tulis Daluang dan Menggurat di Media Lontar.

Kegiatan perdana hasil kerja sama Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon dengan pihak museum ini tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan langsung olah bahan dan teknik penulisan kuno.

"Kegiatan ini masih awal, kegiatan pembuka. Ke depan harapannya akan ada kegiatan-kegiatan serupa, yakni mengenalkan kebudayaan-kebudayaan kita kepada khalayak umum," ujar Ketua Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon, Ifan Maulana Ishak, saat ditemui wartawan di MINHA Tebuireng, Kamis (1/10/2026).

Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan proses pengolahan kulit kayu saeh menjadi daluang sebagai media tulis tradisional.

Tak hanya itu, peserta juga dibimbing mengenali karakteristik lontar serta mempraktikkan teknik dasar menggurat dengan pendampingan langsung dari para ahli.

"Tahapannya mulai dari pemukulan serat, pengolahan bahan, pembungkusan menggunakan daun pisang, hingga proses pemeraman," imbuh Ifan menjelaskan kerumitan proses pembuatan daluang.

Pihak museum menekankan pentingnya agenda semacam ini untuk mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai kecerdasan lokal masa lalu. Daluang dan lontar dinilai menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Nusantara mengolah kekayaan alam sekitar demi menyebarkan ilmu pengetahuan.

"Daluang dan lontar pada masa lalu merupakan media untuk menyebarluaskan pengetahuan dan kebudayaan. Karena itu, saya rasa kegiatan ini sangat positif untuk mengenalkan kepada khalayak umum, bagaimana leluhur kita memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di alam, kemudian mengolahnya menjadi media tulis untuk menyampaikan pengetahuan dan kebudayaan," terang Kepala Unit Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari, Mujiburrohman.

Menurut Mujiburrohman, upaya pelestarian budaya tidak boleh berhenti hanya pada pengumpulan dan penyimpanan artefak di dalam etalase museum.

Masyarakat perlu diberikan ruang dan kesempatan untuk mengalami langsung proses sejarah agar ikatan emosional terhadap warisan budaya tetap terjaga.

"Artinya proses pelestarian tidak akan selesai sampai di sini," tegas Mujiburrohman.

Keberadaan tradisi tulis menggunakan daluang dan lontar ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa masyarakat Indonesia di masa lampau tidak memiliki budaya literasi yang kuat.

Melalui pengalaman langsung dalam workshop ini, peserta diharapkan dapat menyebarkan semangat literasi berbasis nilai-nilai sejarah Nusantara.

"Dari daluang dan lontar, setidaknya kita tahu bahwa nenek moyang kita sudah jauh mengenal tradisi menulis. Siapa bilang kita tidak memiliki budaya literasi di masa lalu. Ini adalah bukti konkret bahwa daluang dan lontar merupakan bagian dari tradisi tulis," papar Mujiburrohman.

Edukasi interaktif ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang ke berbagai cabang kebudayaan tradisional lainnya.

Kerja sama ini menjadi pemantik awal untuk terus mendekatkan warisan adiluhung bangsa kepada generasi penerus.

"Ke depan, workshop ini diharapkan terus dikembangkan dengan mengangkat berbagai bentuk kebudayaan Indonesia sehingga semakin dikenal dan dipelajari oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda (Gen Z)," tutup Mujiburrohman.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru