Wujud Nyata Toleransi, Masyarakat Lintas Agama di Jombang Bersatu Siap Sukseskan Muktamar NU ke-35

Reporter : Taufiqur Rachman
Anggota lintas agama, etnis, dan budaya saat mendeklarasikan dukungan penuh untuk Muktamar ke-35 NU di depan TITD Hong Liong Kiong Jombang (Istimewa/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Masyarakat lintas agama di Kabupaten Jombang yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Jombang (FKMJ) menyatakan komitmen penuh untuk menyukseskan gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026.

Deklarasi kebersamaan ini digelar di Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Hong Liong Kiong Jombang pada Kamis (6/8/2026).

Sebelum mengucapkan deklarasi, massa aksi terlebih dahulu membagikan bendera Merah Putih kepada para pengguna jalan yang melintas di depan klenteng. Aksi ini menjadi simbol kuat kebersamaan dan jiwa nasionalisme dalam menyambut hajatan besar yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.

"Apalagi muktamar ini adalah event dunia, bukan Indonesia, ini dunia. Sehingga kita harus ikut menyambut," ungkap Ketua FKMJ, H. Su'udi, kepada awak media, Jumat (7/8/2026) sore.

Su'udi menegaskan bahwa status Jombang sebagai Kota Santri sekaligus Kota Toleransi menjadi pijakan utama dalam melandasi gerakan ini.

Bagi FKMJ, semangat persatuan dan saling menopang adalah kunci utama keberhasilan agenda berskala internasional tersebut.

"Jadi apa saja yang ada di Jombang kita harus bersatu padu untuk saling mendukung, saling toleransi dan lain sebagainya," terangnya.

Semangat inklusivitas ini turut ditekankan oleh Sekretaris FKMJ, Didik Tondo Susilo. Ia menyebutkan bahwa FKMJ diisi oleh elemen masyarakat dari beragam latar belakang agama, etnis, hingga budaya yang menjadi modal sosial berharga bagi Kabupaten Jombang.

"Seluruh agama yang ada di Indonesia termasuk kepercayaan ada di lingkungan kami. Yaitu Islam, Hindu, Kristen, Katolik, Budha dan Konghucu serta penghayat kepercayaan, semuanya ada di FKMJ," ucap Didik.

Sebagai langkah konkret, FKMJ telah menyiapkan dua strategi utama untuk mendukung kelancaran hajatan akbar para nahdliyin tersebut.

Pertama, dengan menjaga stabilitas dan situasi kondusif di wilayah Jombang, serta kedua, memberikan ruang dan dukungan seluas-luasnya bagi para muktamirin agar dapat beragenda secara maksimal.

"Caranya adalah yang pertama dengan membuat situasi kondusif yang ada di Kabupaten Jombang. Yang kedua, memberikan peluang sebanyak-banyaknya kepada muktamirin untuk bisa melaksanakan muktamar dengan sebaik-baiknya," pungkas Didik Tondo Susilo.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru