NGANJUK, SRTV.CO.ID – Seiring masuknya musim kemarau, Kabupaten Nganjuk mulai dilanda fenomena angin kencang. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling diwanti-wanti untuk meningkatkan kewaspadaan demi mencegah gagal panen.
Prakirawan Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan siklus tahunan yang akan terus meningkat.
"Puncaknya saat bulan Agustus dengan kecepatan tertinggi bisa mencapai 40-50 km/jam," ujar Setiyaris, Selasa (7/7/2026).
Julukan Nganjuk sebagai "Kota Angin" pun bukan tanpa alasan. Setiyaris menyebutkan bahwa wilayah ini memiliki frekuensi angin kencang yang jauh lebih tinggi dibanding daerah-daerah tetangganya akibat letak geografis yang unik.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografis Nganjuk yang berada di dataran rendah dan diapit oleh Gunung Wilis di bagian selatan, serta kompleks Gunung Arjuno-Welirang di bagian timur," ungkapnya.
Posisi geografis tersebut menciptakan koridor alami yang memaksa aliran massa udara bergerak lebih cepat saat melintasi Nganjuk. Secara meteorologis, fenomena ini dikenal sebagai effect channeling atau efek corong, di mana angin terfokus pada celah di antara dua kompleks pegunungan.
Ditambah lagi, saat musim kemarau, Angin Monsun Timur dari Australia bertiup dominan. Perbedaan tekanan udara antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur, berpadu dengan suhu udara tinggi di dataran rendah Nganjuk, semakin mempercepat pergerakan massa udara.
"Kombinasi antara efek koridor pegunungan, pola tekanan udara, dan pengaruh angin monsun inilah yang menjadikan Nganjuk memiliki karakteristik angin yang khas dan dikenal luas sebagai Kota Angin," paparnya.
Namun, karakteristik khas ini juga membawa ancaman nyata. Angin ekstrem berpotensi merusak atap rumah, merobohkan papan reklame, memutus jaringan listrik, hingga memicu pohon tumbang di jalan raya yang membahayakan pengendara. Tak hanya itu, debu yang beterbangan juga mengancam kesehatan pernapasan warga.
Dampak buruk ini pun mengintai para petani lokal yang tengah menghadapi musim tanam di kemarau ini.
"Di sektor pertanian, angin kencang bisa membuat tanaman pangan seperti jagung roboh sebelum waktunya," tandasnya
Editor : SRTVRedaksi