Nganjuk, SRTV.CO.ID – Saat matahari mulai menyinari halaman SD Negeri Gondang Pace, pada pagi hari, sosok seorang pria berdiri di depan kelas dengan langkah yang sedikit terengah-engah. Kakinya mengenakan sepatu hitam sol warna putih yang jelas terlihat rusak, bagian belakangnya sobek membungkuk menyusuri lekukan tumit.
Ia adalah Mohamad Anang Arianto, guru agama Islam yang telah tujuh tahun mengabdi di sekolah ini, namun nasibnya masih menggantung pada bantuan pribadi orang lain.
Dengan honor hanya 400 ribu rupiah per bulan yang diterima dari guru yang digantikannya dan sudah pindah ke SDN Wilayah Lengkong, pria ini harus menghitung setiap rupiah yang masuk ke kantongnya.
Uang itu hanya cukup untuk membeli bensin ke sekolah dan mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Tak ada sisa untuk membeli sepatu baru, apalagi memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.
“Kalau ada uang lebih, pasti saya beli sepatu dulu. Tapi sekarang ini, yang penting bisa sampai ke sekolah dan mengajar anak-anak dengan baik,” ujar Anang, Senin (2/2/2026), sambil sedikit menyembunyikan bagian sepatu yang sobek saat berjalan menjemput siswa yang terlambat masuk kelas.
Setelah selesai mengajar hingga sore hari, bukan istirahat yang ia cari. Anang langsung menuju tempat parkir untuk menaiki motornya dan mulai bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Jam-jam malam yang seharusnya dihabiskan untuk beristirahat atau mengurus keluarga, ia gunakan untuk mencari tambahan penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Saya tidak bisa berhenti. Anak-anak di sekolah masih menunggu saya, dan keluarga juga perlu saya rawat,” ucapnya dengan mata yang penuh tekad meskipun sedikit lelah.
Perjuangan Anang bukan hanya tentang uang. Selama tujuh tahun mengabdi, ia sudah dua kali mengajukan diri untuk masuk dalam daftar Data Pokok Pendidikan (Dapodik), namun hingga kini belum ada tanggapan yang jelas. Padahal, masuknya nama ke Dapodik menjadi salah satu syarat utama agar guru honorer dapat memperoleh kesejahteraan yang layak dari pemerintah.
Mohamad Sukirno, Kepala Sekolah SDN Gondang, mengakui kondisi yang dialami oleh tiga tenaga pembantu di sekolahnya – termasuk Anang, Siti Komariyah, dan Binti Mariatil Qiftiah.
“Kita sangat prihatin, tapi pihak sekolah tidak memiliki anggaran khusus untuk mereka. Honor yang diterima saat ini adalah dari guru yang digantikan secara pribadi,” jelas Sukirno dengan nada khawatir.
Ditengah kesulitan yang dihadapinya, Anang tetap menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam mengajar. Siswanya mengaku sangat menyukai pembelajaran agama yang diberikan oleh gurunya tersebut.
“Pak Anang mengajar dengan sabar dan selalu cerita yang menarik. Kami tidak tahu kalau Pak Anang mengalami kesulitan seperti itu,” ujar Siti Nurhaliza, salah satu siswa kelas 6.
Harapan kecil kini terpaut pada pemerintah daerah maupun pusat. Mereka berharap akan ada perhatian khusus dan tindakan nyata untuk memperbaiki nasib guru honorer yang telah lama berkontribusi dalam membangun masa depan anak bangsa.
Seperti Anang yang meskipun hanya mengenakan sepatu sobek, semangatnya dalam mendidik siswa tak pernah patah sedikitpun
Reporter : Inna Dewi Fatimah
Editor : MBP












