JOMBANG, SRTV.CO.ID – Ditengah kesibukan menyambut Tahun Baru Imlek 2026, aroma wangi khas dupa menggeliat dari dapur produksi kecil yang terletak di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso. Usaha yang telah ditekuni Yati Maisyaroh selama belasan tahun ini kini menjadi sumber rejeki emas, dengan pesanan melonjak dua hingga tiga kali lipat dan mampu meraih cuan puluhan juta rupiah per bulan.
Setiap pagi, para pekerja mulai berkutat dengan bahan baku pilihan: kayu gaharu dan cendana yang dikenal sebagai jenis kayu premium dengan nilai ekonomi tinggi. Jelang perayaan Imlek, target produksi harian dinaikkan menjadi 25 kilogram dupa jadi, jauh di atas kapasitas normal hari-hari biasa.
“Sebelum Imlek, pesanan datang tidak hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar seperti Taiwan dan Singapura, Kita harus bekerja ekstra keras agar semua pesanan bisa terpenuhi tepat waktu.” Ujar Yati Sabtu (7/2/2026)
Harga dupa yang dihasilkan bervariasi sesuai jenis dan ukuran kemasan. Mulai dari Rp 15 ribu, per kemasan kecil hingga Rp150 ribu, per kilogram untuk produk premium. Nilai lebih dari dupa berbahan gaharu dan cendana bukan hanya terletak pada aroma wangi yang khas, tapi juga keyakinan masyarakat akan manfaatnya dalam upacara budaya dan spiritual.
“Kayu gaharu yang kita gunakan memiliki kualitas terbaik, sehingga aroma yang dihasilkan tahan lama dan tidak menyengat, tulah mengapa produk kita tetap diminati meskipun harganya tidak murah.” Tuturnya.
Dari Usaha Kecil Menuju Pasar Global
Awalnya hanya sebagai usaha rumahan untuk membantu penghasilan keluarga, kini usaha produksi dupa milik Yati telah merambah pasar internasional. Pengalaman bertahun-tahun dalam memilih bahan baku dan menguasai teknik pembuatan menjadi modal utama yang membuat produknya mampu bersaing.
“Dengan peningkatan pesanan jelang Imlek tahun ini, kami berhasil meraih cuan antara Rp 20 hingga Rp 30 juta rupiah per bulan, ini adalah hasil dari kerja keras dan kepercayaan pelanggan yang selama ini kita jaga dengan baik.” Katanya.
Tak hanya puas dengan pencapaian saat ini, Yati berencana untuk memperluas kapasitas produksi dan mengembangkan varian produk baru. Ia juga berharap bisa mengajak lebih banyak warga sekitar untuk bergabung dalam usaha ini, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
“Semoga dengan semakin dikenalya produk dupa dari Jombang, kita bisa menjadi salah satu pusat produksi dupa premium di Jawa Timur bahkan Indonesia,” tutupnya penuh semangat.
Reporter : M Faiz Hasan
Editor : Tim Redaksi SRTV
