Jombang, SRTV.CO.ID – Saat sebagian warga masih terlelap, Sutaji sudah memulai harinya. Usai salat subuh berjamaah, pria berusia 66 tahun itu mengangkat dua keranjang besar berisi kerupuk, lalu mengikatnya di bagian belakang sepeda ontel tuanya. Dari gang sempit hingga jalan utama, ia kayuh pelan-pelan, menyapa warung demi warung di Kecamatan Peterongan hingga pusat Kota Jombang.
Begitulah rutinitas yang ia jalani puluhan tahun terakhir. Tanpa mesin, tanpa etalase, hanya sepeda pancal dan ketekunan. Siapa sangka dari kayuhan ontel itulah Sutaji, pedagang kerupuk keliling asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo akhirnya akan menunaikan ibadah haji pada 2026 bersama sang istri tercinta.
“Sejak awal menikah, saya sudah niat. Kalau Allah kasih rezeki, ingin sekali ke Makkah,” ujar Sutaji lirih saat ditemui pada Rabu (04/02/2026) sore hari.
Sutaji bukan pendatang baru di dunia jualan kerupuk. Ia sudah menekuni profesi ini sejak tahun 1970, jauh sebelum menikah. Lahir di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, ia terbiasa hidup sederhana. Sepeda ontel menjadi saksi setia perjuangannya menyambung hidup dari hari ke hari.
Tahun 1983 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia menikah dengan Siti Hana (62), perempuan asal Dusun Budug yang setia mendampinginya hingga kini. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh satu niat besar yang disimpan rapat-rapat, suatu hari bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Kerupuk yang ia jual diambil dari sebuah pabrik di wilayah Senden, Peterongan. Setiap pukul 06.00 WIB, Sutaji mulai berkeliling. Tak sampai satu jam, sekitar lima kilogram kerupuk biasanya sudah ludes.
“Saya bungkus plastik isi empat. Satu bungkus saya jual Rp 500,” katanya sambil tersenyum.
Pada era 1980-an, penghasilannya tak lebih dari Rp 1.000 per hari. Namun dari jumlah yang terbilang sangat kecil itu, Sutaji disiplin menyisihkan uang. Sekitar Rp 200 per hari ia tabung, bukan untuk membeli barang, melainkan untuk mimpi jangka panjang.
Waktu berjalan, zaman berubah. Penghasilan Sutaji kini mencapai sekitar Rp 100 ribu per hari. Setengahnya untuk kebutuhan rumah tangga, sisanya tetap ia simpan. “Yang penting niat dan hidup sederhana. Cukup untuk makan, sisanya ditabung,” tuturnya.
Kesabaran puluhan tahun itu akhirnya berbuah manis. Pada 2012, sang istri lebih dulu mendaftar haji. Sutaji menyusul pada 2019, setelah kembali mengumpulkan biaya dari hasil berjualan kerupuk.
Kini, nama mereka tercatat sebagai calon jemaah haji dan dijadwalkan berangkat bersama pada musim haji 2026.
Menariknya, Sutaji tak pernah mengumbar niat besarnya itu. Kepada sesama pedagang, ia hanya meminta doa dan restu. “Saya cuma mohon doanya supaya sehat, berangkat lancar, pulang juga lancar. Itu sudah cukup,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Sutaji, kisah hidupnya bukan untuk disombongkan. Ia hanya ingin berbagi pesan sederhana: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. “Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT memudahkan jalannya,” pungkasnya.
Reporter. : M Faiz Hasan
Editor. : Tim Redaksi SRTV












