JOMBANG, SRTV.CO.ID — Memasuki awal musim panen padi, harga gabah kering panen (GKP) di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, terpantau relatif stabil. Di tingkat petani, harga gabah berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.200 per kilogram, angka yang dinilai masih wajar meski belum memperhitungkan biaya operasional panen.
Stabilitas harga tersebut dibenarkan oleh Kusaini, pedagang gabah asal Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak. Ia menyampaikan bahwa harga gabah saat ini masih berada pada level normal, dengan penyesuaian berdasarkan kualitas hasil panen.
“Harga gabah dari sawah saat ini berkisar Rp7.000 sampai Rp7.200 per kilogram, tergantung kualitasnya,” ujar Kusaini, Jumat (2/1).
Namun demikian, Kusaini mengingatkan bahwa harga tersebut belum merupakan pendapatan bersih petani. Pasalnya, petani masih harus menanggung biaya tambahan, terutama sewa mesin panen combine harvester.
“Kalau dihitung bersih, hasilnya masih harus dikurangi biaya sewa combine,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Perak, Fathulloh, mengatakan panen padi di wilayah tersebut sudah mulai berlangsung, meski masih dalam tahap awal. Ia memperkirakan puncak panen baru akan terjadi pada Januari 2026.
“Beberapa desa sudah mulai panen, tetapi masih awal. Panen serempak kemungkinan besar berlangsung Januari 2026,” ungkapnya.
Fathulloh menambahkan, harga gabah di Desa Pagerwojo cenderung sedikit lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, yakni di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.100 per kilogram. Perbedaan harga tersebut dipengaruhi kualitas gabah serta waktu panen yang belum serempak.
“Jika panen dilakukan serempak dan kualitas gabah baik, harga biasanya lebih stabil bahkan bisa meningkat,” tambahnya.
Berdasarkan data PPL, luas tanam padi di Kecamatan Perak mencapai sekitar 1.428 hektare. Desa Pagerwojo menjadi salah satu wilayah yang konsisten menerapkan pola tanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Sementara itu, sejumlah desa lain seperti Temuwulan, Glagahan, dan Sembung, sebagian lahannya dimanfaatkan untuk budidaya jagung.
Upaya peningkatan produktivitas pertanian juga didukung melalui program optimalisasi lahan (oplah) yang diterapkan di lima desa, yakni Sembung, Sumberagung, Sukorejo, Jantiganggong, dan Cangkringrandu. Pemerintah turut menyediakan pompa sibel guna menunjang kebutuhan air irigasi.
“Di Desa Cangkringrandu, panen baru mencapai sekitar 20 persen. Puncaknya memang masih Januari,” pungkas Fathulloh.
Stabilnya harga gabah di awal musim panen ini menjadi sinyal positif bagi petani. Meski demikian, petani diimbau tetap memperhitungkan biaya produksi secara matang agar hasil panen dapat memberikan keuntungan yang optimal serta mendukung keberlanjutan sektor pertanian daerah.***
Reporter: Agung Pamungkas
Editor: AMS












