Tradisi Takbir Malam Idul Fitri di Nganjuk Bertransformasi dari Obor Keliling Kampung ke Sound Horeg

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Pada malam Hari Raya Idul Fitri tahun 2026 ini, suasana meriah kembali menyelimuti Desa Tanjung Kalang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Tradisi takbir keliling yang selama ini menjadi bagian penting dari perayaan hari besar umat Islam tersebut kini menunjukkan bentuk yang berbeda dibandingkan era tahun 2000 ke bawah. Jika dulu warga keliling menggunakan oncor atau obor sebagai penerangan, sekarang berubah menjadi sound horeg keliling kampung.

“Pergeseran tradisi itu dimungkinkan karena kemajuan di bidang teknologi dan budaya,” ujar Jariyah, warga asli desa setempat yang kini menetap di Kota Surabaya, Jumat (20/3/2026) malam.

Dulu, saat teknologi belum sepesat sekarang, takbir keliling dilakukan dengan cara jalan kaki dari satu kampung ke kampung lain. Banyak warga laki-laki dan perempuan yang bergabung dengan penuh semangat, membawa oncor atau obor sebagai sumber cahaya dalam perjalanan mereka.

“Dulu mungkin karena memang belum ada sound horek, takbir ya keliling kampung jalan kaki membawa oncor atau obor,” jelas perempuan berusia 56 tahun itu.

Kini, bukan obor yang menerangi jalanan, melainkan sound system dengan suara yang meriah yang menyebarkan takbir ke seluruh pelosok desa. Perubahan ini tidak hanya terlihat di Desa Tanjung Kalang, melainkan juga mulai terjadi di berbagai daerah lain di sekitarnya.

“Kalau sekarang kelihatannya di berbagai daerah sudah berubah, namun tidak apa-apa yang penting tidak mengurangi makna dari peringatan perayaan Idul Fitri itu sendiri,” tambahnya.

Meski bentuk tradisi takbir keliling berubah, Jariyah menekankan bahwa ada satu hal yang harus tetap dilestarikan dan diturunkan ke generasi mendatang, yaitu tradisi pulang kampung. Bagi dirinya, desa merupakan tempat kelahiran dan pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

“Yang terpenting adalah tradisi pulang kampung harus tetap dilestarikan diturunkan ke anak cucu, bagaimanapun juga desa merupakan tempat asal dimana dirinya dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tua,” paparnya.

Meskipun kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi, Jariyah dan keluarga besarnya tetap konsisten menjaga serta melaksanakan tradisi tersebut sebagai bentuk rasa terima kasih dan pertanggungjawaban kepada leluhur.

“Meskipun saat ini kedua orang tua sudah tidak ada, saya dan keluarga besarnya tetap nguri-nguri tradisi sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada leluhur,” pungkasnya.

Reporter   : Etna Laila 

Editor        : Tim Redaksi SRTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *