Angpao Lebaran, Bukan Cuma Uang Baru, Begini Makna dan Asal-Usul yang Sarat Makna

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Tradisi memberi angpao atau yang lebih dikenal dengan “salam tempel” saat Lebaran di Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari momen kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Bentuk berbagi kebahagiaan, kasih sayang, dan silaturahmi ini kerap melibatkan uang baru dalam amplop untuk anak-anak atau kerabat muda, serta menyimpan akar budaya yang kaya dan mendalam.

“Pemberian uang ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan, melatih kepedulian, dan menghargai anak-anak yang telah belajar berpuasa,” ungkap Siti Solikah, warga Bulak Cumpat Surabaya yang berasal dari Desa Tanjung Kalang Ngronggot Nganjuk.

Menurut penjelasannya, tradisi ini merupakan hasil akulturasi budaya yang indah dan penuh makna. Perpaduan budaya Tionghoa yang menghadiahkan angpao saat Imlek dengan budaya lokal serta ajaran Islam telah menciptakan sebuah tradisi yang selaras dengan nilai sedekah yang kental dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia.

“Perpaduan budaya Tionghoa (pembagian angpao saat Imlek) dengan budaya lokal dan ajaran Islam telah menciptakan sebuah tradisi yang disesuaikan dengan nilai sedekah yang kental dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan asal-usul menurut cerita dari orang tuanya, bahwa secara historis tradisi berbagi uang atau hadiah saat Idul Fitri telah ada sejak masa Dinasti Fatimiyah di Afrika Utara dan Kesultanan Ottoman. Adapun bentuk pemberian dengan menggunakan amplop di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang lebih muda.

“Kalau disini (Indonesia, red) tradisi bagi uang dengan amplop ini katanya mulai populer setelah tahun 1950-an,” jelasnya.

Penggunaan uang baru dalam amplop juga tidak sekadar kebiasaan belaka, melainkan memiliki simbolisme tersendiri. Uang baru menjadi lambang kesucian dan kebersihan diri yang kembali diperoleh setelah sebulan penuh berpuasa, selaras dengan semangat Idul Fitri yang mengajak umat untuk bertobat dan memulai hidup baru dengan sikap yang lebih baik.

“Ini merupakan adat istiadat yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang,” tambahnya saat menekankan bahwa memberi angpao Lebaran bukanlah kewajiban dalam agama.

Tradisi “salam tempel” ini menjadi bukti nyata bagaimana berbagai budaya dapat menyatu dengan harmonis dan menghasilkan nilai-nilai positif yang tetap lestari dan menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran hingga saat ini.

Reporter : Etna Laila

Editor      : Tim Redaksi SRTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *