NGANJUK, SRTV.CO.ID — Di tengah meningkatnya intensitas penggunaan gawai, paparan polusi, dan tren kosmetik mata, kesehatan indra penglihatan masyarakat kini kian terancam.
Gejala awal seperti mata merah, gatal, kering, hingga pandangan kabur kerap dianggap sepele, sehingga pasien kerap baru berobat saat kondisi penglihatannya memburuk secara signifikan.
"Mata merupakan salah satu indra vital yang kerap diabaikan masyarakat. Sering kali gejala awal seperti mata merah, gatal, kering, atau pandangan sedikit buram dianggap keluhan sepele," ujar Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Daerah (RSD) Kertosono, dr. Lanisa Hapsari, Sp.M. Rabu (14/10/2026)
Penggunaan gawai dalam durasi lama tanpa jeda menjadi pemicu utama asthenopia atau mata lelah yang ditandai dengan pusing, mata berair, pegal, dan terasa mengganjal. Masyarakat imbau untuk lebih bijak membatasi cara kerja mata saat menatap layar.
"Untuk mencegah mata lelah, terapkan rumus 20-20-20. Artinya, setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter. Atur juga jarak pandang gawai sekitar 40–50 cm, hindari penggunaan di ruangan gelap, serta jangan menatap layar sambil berbaring," imbau dr. Nisa.
Ancaman gangguan refraksi seperti mata minus atau silinder juga marak menyasar anak-anak. Orang tua diminta lebih peka terhadap kebiasaan anak, seperti memicingkan mata, menonton TV terlalu dekat, posisi mata tidak simetris (juling), hingga sering menggosok mata.
"Bagi anak-anak, kami menganjurkan agar mereka memperbanyak aktivitas di luar ruangan (outdoor). Hal ini sangat penting agar mata terlatih melihat objek jarak jauh dan meminimalkan risiko perkembangan gangguan refraksi," ungkap dr. Nisa.
Selain faktor layar gawai, kebiasaan memakai riasan mata seperti maskara dan eyeliner serta penggunaan lensa kontak berisiko memicu infeksi berat jika higienitasnya diabaikan.
Sisa kosmetik dapat menyumbat kelenjar minyak dan memicu bintitan (hordeolum), sedangkan memakai lensa kontak saat tidur atau mandi berpotensi merusak kornea hingga menyebabkan kebutaan.
"Penting sekali membersihkan sisa riasan mata secara menyeluruh sebelum tidur. Bagi pengguna lensa kontak, kebersihan tangan dan wadah wajib dijaga ketat. Dilarang keras memakai lensa kontak saat tidur maupun mandi guna mencegah infeksi kornea yang berisiko memicu kebutaan," tegas dr. Nisa.
dr. Nisa juga meluruskan mitos pengobatan tradisional yang masih sering dilakukan masyarakat, seperti mencuci mata yang terkena kelilipan dengan air rebusan daun sirih.
Praktik medis ini sangat berbahaya karena air rebusan dapat membawa bakteri atau jamur yang memperparah luka infeksi kornea.
Sebagai pencegahan harian, masyarakat disarankan menggunakan kacamata berfilter UV saat beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah katarak dini dan pterigium.
"Kami melarang keras tindakan mencuci mata menggunakan air rebusan daun sirih. Secara medis itu sangat berbahaya karena dapat membawa bakteri maupun jamur yang justru memperparah luka infeksi pada kornea mata. Masyarakat diimbau tidak membeli obat tetes mata sembarangan dan segera memeriksakan diri ke Poli Mata RSD Kertosono jika mengalami keluhan penglihatan," pungkas dr. Nisa.
Editor : SRTVRedaksi