Potensi Terganjal Modal, Mengintip Geliat Batik Tulis Jati Waras Khas Pace Nganjuk

Reporter : Hariadi Suwandito
Perajin Batik Tulis Jati Waras asal Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Nganjuk, saat mencanting kain batik tulis dengan ketelitian tinggi di kediaman Pasutri Yatilah dan Yulianto. (Dito/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Di sebuah desa tenang yang terletak di lereng Gunung Wilis, tepatnya Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, denyut kebudayaan batik tulis terus dijaga oleh pasangan suami istri, Yatilah dan Yulianto. 

Berawal dari niat sederhana pada tahun 2012, mereka memulainya dengan memproduksi taplak meja kain batik. Setelah mahir, keahlian tersebut dikembangkan untuk membuat busana batik tulis yang ditekuni dengan konsisten hingga saat ini.

"Awalnya saya hanya memproduksi taplak meja. Setelah merasa mahir, saya mulai berani membatik kain baju dan terus ditekuni hingga sekarang," ungkap Yatilah. Minggu (23/8/2026)

Proses pembuatan batik tulis karya mereka membutuhkan ketelatenan, kesabaran, serta imajinasi mendalam. Setiap goresan canting dan tetesan malam mengandung makna tersendiri sesuai dengan motif yang diangkat. 

Tahapannya dimulai dari merancang pola, mencanting, mewarnai, mencelup, hingga pengeringan, hingga akhirnya menghasilkan lembaran kain batik yang bernilai seni tinggi.

Menyesuaikan dengan nama desanya, motif utama yang menjadi identitas produknya mengusung tema keindahan alam lokal. 

Perajin Batik Tulis Jati Waras asal Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Nganjuk, saat mencanting kain batik tulis dengan ketelitian tinggi di kediaman Pasutri Yatilah dan Yulianto. (Dito/SRTV)

"Sesuai dengan nama desa kami, motif utama yang diproduksi mengusung tema pohon jati. Namun seiring perkembangan trend dan permintaan, kami juga menambah variasi pola sesuai keinginan pelanggan, seperti motif cabe hingga simbol kebanggaan Nganjuk, Jayastamba," terangnya.

Meski karya batik tulis Jati Waras memiliki keunikan motif dan kualitas pengerjaan yang halus, perjalanan bisnis usaha mikro ini tak lepas dari hambatan. 

Masalah klasik berupa keterbatasan modal menjadi batu sandungan utama yang membuat mereka kesulitan memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kapasitas produksi.

Kondisi permodalan yang terbatas ini diakui Yatilah cukup menghambat perkembangan usahanya. "Usaha ini terkendala permodalan, sehingga untuk mengembangkan usaha ke skala yang lebih besar kami mengalami kesulitan," keluh Yatilah saat menceritakan kendala yang dihadapinya.

Keberadaan perajin batik lokal seperti Yatilah tidak hanya sekadar menjaga warisan budaya Jawa, tetapi juga menjadi penopang roda perekonomian keluarga serta aset ekonomi kreatif daerah. 

Keberlanjutan usaha batik khas Nganjuk ini memerlukan dorongan dan perhatian konkret dari pihak terkait agar terus bertahan dan berkembang.

Perajin Batik Tulis Jati Waras asal Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Nganjuk, saat mencanting kain batik tulis dengan ketelitian tinggi di kediaman Pasutri Yatilah dan Yulianto. (Dito/SRTV)

Di tengah keterbatasan yang ada, Yatilah menyimpan harapan besar agar mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. 

"Saya sangat berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu meningkatkan dan memajukan usaha kami ini," tuturnya penuh harap.

Meski dibayangi kendala permodalan dan fasilitas yang serba terbatas, semangat Yatilah dan Yulianto untuk terus berkarya tak pernah padam. Usaha batik tulis ini terbukti mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan mereka sehari-hari.

Bagi Yatilah, bertahan dengan batik tulis adalah bentuk rasa syukur atas rezeki dan dedikasi terhadap karya seni tanah kelahirannya. 

"Meski demikian, saya tetap bersyukur karena dengan usaha batik tulis ini sedikit banyak dapat membantu mengangkat ekonomi keluarga," pungkas Yatilah.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru