Dekat Wong Cilik, Bupati Marhaen Djumadi Diberi Gelar “Bupati Al-Ma’un” oleh Wamen Dikdasmen

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kepedulian dan konsistensi Bupati Nganjuk, Dr. H. Marhaen Djumadi, dalam membela dan memberdayakan kaum lemah mendapat apresiasi luar biasa. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Riza Ul Haq, secara khusus menganugerahkan gelar “Bupati Al-Ma’un” kepadanya dalam acara Halal Bihalal di Pendopo Kabupaten, Sabtu (4/4/2026).

“Kiprah dan kepedulian terhadap kaum miskin sangat nyata, selain itu sinergi Pemkab Nganjuk dan PDM Nganjuk dalam program sosial, khususnya penguatan kelompok rentan dan mustad’afiin sangat jelas manfaatnya,” ujar Wamen Riza Ul Haq dalam sambutannya.

Pemberian gelar ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, kolaborasi yang terjalin antara pemerintah daerah dan Muhammadiyah mencerminkan nilai-nilai luhur Surah Al-Ma’un yang menekankan kepedulian terhadap sesama. Kemitraan ini dinilai menjadi model ideal membangun masyarakat berkemajuan berbasis nilai agama.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen juga menyinggung sosok Bupati Marhaen yang identik dengan istilah “Marhaen Muhammadiyah” atau Marmud. Ia menjelaskan bahwa keberagaman latar belakang dan pilihan sosial-politik tidak mengganggu esensi keimanan.

“Anggota Muhammadiyah berwarna, ada Marmud, ada Munu. Fenomena ini tak ada hubungannya dengan keyakinan teologi. Mahasiswa non-Muslim di institusi Muhammadiyah pun tetap menjalankan agamanya masing-masing,” jelasnya.

Acara yang mengusung tema “Memperkuat Ukhuwah Menguatkan Dakwah” ini juga menjadi momen sejarah. Wamen mengungkapkan bahwa tradisi Halal Bihalal sebenarnya dipelopori oleh Muhammadiyah sejak tahun 1924, sebelum kemudian dilegalisir secara nasional pada era Presiden Sukarno.

Tidak hanya soal sosial dan budaya, Wamen juga memaparkan arah kebijakan pendidikan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas dengan orientasi peserta didik menengah ke atas, menerapkan prinsip Ahsanu amala atau siapa yang terbaik amalnya, itulah yang dipilih.

“Dengan menerapkan kaidah ‘Ahsanu amala’, siapa yang paling baik amalnya maka sekolah yang paling baik mendidik muridnya menjadi pilihan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan tantangan sekolah swasta ke depan dengan hadirnya sekolah terintegrasi gratis dari pemerintah. Oleh karena itu, kualitas dan keunggulan menjadi harga mati.

Ia juga menyoroti pentingnya Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk mengukur daya analisis siswa, berbeda dengan ujian harian yang cenderung hafalan. Sayangnya, riset menunjukkan kemampuan literasi anak zaman now masih rendah karena sering diposisikan sebagai objek bukan subjek belajar.

“Ada penelitian yang mengungkapkan bahwa anak sekarang dibanding 15 tahun lalu kemampuan literasi dan analisisnya sangat rendah karena siswa diposisikan sebagai objek bukan subyek,” paparnya.

Di akhir sambutan, Wamen menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak lepas dari peran keluarga. Gelar “Bupati Al-Ma’un” pun menjadi simbol bahwa kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil adalah kunci kemajuan.

Reporter : Inna Dewi Fatimah

Editor      : Tim Redaksi SRTV 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *