NGANJUK, SRTV.CO.ID – Di Dusun Waung Bendo, Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon, kondisi Tempat pemakaman Umum (TPU) sudah penuh sesak membuat setiap kabar meninggal dunia di desa ini selalu membawa kesusahan tersendiri. Nisan-nisan rapat berdiri di setiap sudut lahan yang terbatas, bahkan tak jarang terdapat petak tanah yang harus digunakan secara bergantian atau bahkan menggusur makam lama akibat tidak adanya tempat baru.
“‘Sudah beberapa kali kita harus menghadapi kondisi sulit seperti ini. Ketika ada keluarga yang kehilangan orang tersayang, kita harus berpikir keras mencari tempat kosong, bahkan terkadang harus meminta izin kepada keluarga lain untuk menggunakan sebagian lahan makam mereka,'” ungkap Sugeng Wijaya, salah satu warga yang turut terlibat dalam inisiatif perluasan pemakaman, Minggu (15/2/2026)
Sebelum memutuskan untuk bertindak sendiri, warga telah mengusulkan kepada pemerintah desa untuk memperluas area pemakaman. Mereka menyampaikan bahwa Pendapatan Asli Desa (PAD) Desa Sonoageng mencapai lebih dari Rp 777 juta rupiah, sehingga mengajukan agar desa dapat membantu sebagian biaya sekitar Rp 70 juta, dengan sisanya akan ditanggung melalui iuran bersama warga.
Namun usulan tersebut tidak pernah mendapatkan tanggapan yang jelas dari pihak desa. “‘Kita sudah mengajukan usulan lebih dari tiga bulan yang lalu, tapi tidak ada tanggapan apapun. Padahal kita tahu desa memiliki dana yang cukup, jadi kami merasa perlu mengambil langkah sendiri sebelum kondisi semakin parah,'” jelas Fathurohman, Ketua Panitia Perluasan Makam yang dibentuk warga
Fathur menambahkan bahwa kekhawatiran akan semakin banyaknya kasus menggusur makam orang lain menjadi alasan utama mereka tidak bisa menunggu lebih lama.
Tanpa pilihan lain, warga akhirnya memutuskan untuk mengambil inisiatif sendiri. Mereka sepakat untuk mengumpulkan dana melalui iuran masing-masing rumah tangga, dengan kontribusi sebesar Rp 250 ribu setiap rumah. Proses pengumpulan dana berjalan lancar, hingga akhirnya terkumpul total Rp 400 juta yang cukup untuk membeli lahan persawahan seluas 125,5 RU (1RU sama dengan 1×14 meter) yang terletak tepat di samping area pemakaman lama.
“‘Masing-masing dari kita memberikan bagian sesuai kemampuan, mulai dari pekerja harian hingga wiraswasta, semua bersedia ikut berkontribusi. Hanya dalam waktu satu bulan, dana sudah terkumpul dan kita bisa membeli lahan tersebut dengan harga 305 juta rupiah,'” jelas Faturohman.
Sisa dana yang terkumpul akan digunakan untuk pengolahan lahan dan pembuatan saluran drainase agar area baru tidak mudah tergenang air.
Saat ini, puluhan warga sedang bergotong-royong melakukan pengurukan dan pembuatan parit drainase di area baru tersebut. Mereka bekerja dengan penuh semangat, meskipun harus bekerja di bawah terik matahari untuk menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin.
Beberapa alat sederhana seperti cangkul dan sekop menjadi teman mereka dalam membentuk lahan yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sesama warga.
“‘Kita tidak bisa menunggu bantuan yang tidak pasti datangnya. Makam adalah tempat penting bagi kita semua, jadi tanggung jawabnya juga ada di pundak kita sebagai warga,'” tambah Sutrisno, salah satu warga yang ikut terlibat dalam kegiatan
Warga juga memasang papan informasi dan spanduk yang menyatakan area ini merupakan hasil swadaya masyarakat, agar tidak ada klaim dari pihak manapun di kemudian hari.
“Kita berharap, ini bisa memberikan kenyamanan bagi seluruh warga desa. Semoga nantinya desa bisa memberikan dukungan dalam hal administrasi agar area baru ini bisa diakui secara resmi,” pungkas Sugeng Wijaya.
Sampai dengan berita ini diunggah, pihak pemerintah desa Sonoageng belum memberikan konfirmasi terkait kegiatan warga tersebut.
Editor. : Tim Redaksi SRTV
