KEDIRI, SRTV.CO.ID – Pemerintah Kota Kediri terus mendorong gerakan literasi dengan pendekatan yang lebih progresif dan dekat dengan masyarakat. Buku kini tidak hanya tersedia di perpustakaan, tetapi juga hadir langsung di tengah warga melalui Bus Satria serta program Robusca (Ruang Baca Buku di Kafe).
Program Transliteria sekaligus peluncuran Robusca digelar di Ngangeni.ID, Jalan Tembus Kaliombo, Sabtu (28/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Qowimudin Toha, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri Chevy Ning Suyudi, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri Arif Cholisudin, jajaran Diskominfo, serta komunitas literasi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Tingkat kegemaran membaca masyarakat Kota Kediri tercatat mencapai angka 8,7, melampaui target yang ditetapkan dalam RPJMD 2025.
“Jika hanya menunggu masyarakat datang ke perpustakaan, tentu tidak cukup. Kini kami yang hadir mendekat,” ujar Chevy.
Melalui program Transliteria, satu unit Bus Satria dimodifikasi menjadi perpustakaan berjalan dengan kapasitas sekitar 20 orang. Konsep tempat duduk dibuat saling berhadapan agar pengunjung dapat berinteraksi dan berdiskusi. Bus ini berkeliling kota dan singgah di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan wisata Goa Selomangleng, untuk menggelar kegiatan bedah buku terbuka.
Arif Cholisudin memastikan operasional bus dilakukan pada jam yang tidak mengganggu aktivitas sekolah, yakni pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Saat ini baru satu armada yang dioperasikan, namun dua unit tambahan telah disiapkan apabila minat masyarakat terus meningkat.
“Ketika bus ini berkeliling, orang pasti penasaran. Dari situ rasa ingin tahu muncul,” katanya.
Gerakan literasi juga diperluas ke ruang-ruang publik yang digemari masyarakat. Melalui Robusca, sudut baca yang dilengkapi rak buku dan sistem digital kini tersedia di sejumlah kafe. Setidaknya empat kafe lain telah menyatakan komitmen untuk bergabung dalam program tersebut.
Dengan pendekatan ini, literasi di Kota Kediri tidak lagi identik dengan ruang sunyi. Kegiatan membaca diharapkan menjadi lebih inklusif, dinamis, dan menyatu dengan gaya hidup generasi muda, sehingga membaca bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi kebanggaan baru warga Kota Kediri.*
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: AMS












